Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa–Jawa: Simbol Solidaritas Antar-etnis di Lasem

Pada 20 April 2025, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha, didampingi oleh Bupati Rembang Harno, meresmikan Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa Melawan VOC di halaman Klenteng Cu An Kiong, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.[i] Acara ini merupakan rangkaian kirab kimsin (patung dewa/dewi) untuk memperingati hari ulang tahun Makco, yaitu dewi samudra dalam kepercayaan tradisional Tionghoa yang menjadi dewi utama di klenteng tersebut. Tak hanya dihadiri oleh kalangan etnis Tionghoa, acara itu juga diikuti dan dimeriahkan oleh warga Lasem lintas etnis. Hal itu menggambarkan bagaimana situasi kerukunan antaretnis yang telah terjalin selama berabad-abad di Lasem, kota pelabuhan kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Artikel singkat ini akan mengulas latar belakang sejarah hubungan yang erat antara etnis Tionghoa dan Jawa di Lasem, serta bagaimana pentingnya mengedepankan narasi perjuangan bersama kedua kelompok etnis tersebut dalam perlawanan terhadap Kompeni Belanda.

Terbentuknya komunitas Tionghoa di Lasem tidak terlepas dari lokasi strategis Lasem yang berada di pesisir utara Laut Jawa. Namun, kapan persisnya orang-orang Tionghoa mulai bermukim di Lasem sangat sulit ditentukan. Tradisi lisan masyarakat setempat menyebut salah satu kontak awal dengan orang-orang Tionghoa adalah dengan armada muhibah Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413, sebagai duta politik kaisar China era Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit.[ii] Sebagian dari mereka kemudian menetap di pesisir Lasem dan bahkan menikah dengan penduduk lokal.[iii] Sementara sumber-sumber sejarah, misalnya Jurnal Harian (Dagh-register) milik kongsi dagang Belanda (VOC), mencatat bahwa sejak 1641, kapal-kapal dari Lasem berlabuh di Batavia dengan mengangkut garam, gula, dan beras.[iv] Hal ini dapat menggambarkan betapa pentingnya Lasem bagi jalur perdagangan VOC. Pada periode sezaman, kehadiran dan posisi penting orang Tionghoa di kota pelabuhan itu juga dapat ditemukan dalam sumber-sumber Belanda. Pada awal abad ke-17, Bupati Lasem dijabat oleh Singawijaya, seorang keturunan Tionghoa–Jawa.[v] Selanjutnya pada 1620, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram mengangkat seorang pedagang Tionghoa bernama Cik Go Ing untuk menggantikan Singawijaya, lalu memberinya gelar Tumenggung Mertaguna.[vi] Ini merupakan bentuk balas budi sang Sultan karena Mertaguna telah membantunya dalam ekspedisi serangan Mataram ke Surabaya.[vii] Hal itu dapat membuktikan bahwa setidaknya sejak awal abad ke-17, komunitas Tionghoa di Lasem sudah terbentuk dan berinteraksi dengan penduduk Jawa, bahkan terhubung melalui pernikahan, sehingga dapat menduduki posisi penting dalam struktur masyarakat kota pelabuhan itu.

Berselang satu abad kemudian, kedekatan komunitas Tionghoa dengan penduduk Jawa di Lasem tampak semakin jelas ketika kebijakan-kebijakan VOC terhadap mereka semakin tidak bersahabat. Awalnya, pada dasawarsa 1730-an, setelah pecahnya epidemi malaria yang membunuh ribuan orang di Batavia (kini Jakarta), rasa curiga terhadap etnis Tionghoa semakin meningkat.[viii] Pihak VOC menuduh populasi etnis Tionghoa yang sudah terlampau besar sebagai salah satu penyebab wabah penyakit itu. Bahkan, pada 25 Juli 1740, Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier memutuskan bahwa warga keturunan Tionghoa yang mencurigakan akan dideportasi ke Zeylan (kini Sri Lanka) dan dipaksa menjadi petani kayu manis.[ix] Keputusan itu menimbulkan keresahan, khususnya bagi kalangan kuli dan pekerja kasar Tionghoa. Puncaknya, pada tanggal 7 Oktober 1740, pecah kerusuhan akibat aksi protes berbagai kelompok buruh pabrik gula keturunan Tionghoa di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) dan Tanah Abang. Kerusuhan itu memakan puluhan korban jiwa dari pasukan VOC. Untuk merespons serangan ini, pemimpin VOC mengirim tambahan pasukan dan bertindak semakin represif, bahkan mulai melakukan pembakaran permukiman dan pembantaian orang-orang Tionghoa, yang pada akhirnya dikenal dengan Tragedi Angke. Sebagian komunitas Tionghoa di Batavia mengambil jalur laut untuk menghindari kerusuhan itu, dan akhirnya menetap di Lasem. Eksodus komunitas Tionghoa dari Batavia ke Lasem cukup besar dan mereka kemudian membentuk permukiman baru di sebelah utara Desa Babagan dan Soditan.[x] Dari sinilah awal dimulainya aliansi antara para pengungsi Tionghoa dengan golongan penduduk lokal, yang biasa disebut brandal, dalam melawan VOC.[xi]

Trauma dan kebencian terhadap tindakan brutal dan semena-mena VOC terus terbawa dan tersebar luas di komunitas Tionghoa seluruh Jawa, termasuk di Lasem. Menyusul pembantaian massal orang Tionghoa oleh Belanda di Batavia, laskar Tionghoa, yang umumnya dimotori oleh para pelarian dari Batavia, berkolaborasi dengan bala tentara Jawa menyerang balik posisi-posisi VOC. Perlawanan sporadis berawal dari Batavia kemudian menyebar hingga ke Karawang, Cirebon, pesisir Pantura Jawa Tengah, hingga daerah pedalaman Mataram. Perang balas dendam ini dikenal sebagai Geger Pacinan, yang berlangsung antara 1740-1743.[xii] Secara khusus, serangkaian perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Lasem juga populer dengan sebutan “Perang Kuning.”[xiii] Dalam tradisi lisan masyarakat Lasem, terdapat sejumlah nama tokoh Tionghoa yang dipercaya sebagai pemimpin pemberontakan dan penyerangan terhadap tangsi dan benteng VOC. Mereka bahu-membahu bersama pemimpin dan masyarakat lokal Jawa untuk melawan VOC.

Para pengungsi Tionghoa dan warga lokal Lasem yang tidak senang kepada VOC bersatu-padu melakukan perlawanan dan sepakat mengangkat tiga pemimpin pemberontakan terhadap Kompeni Belanda.[xiv] “Tiga Sekawan” itu adalah Adipati Lasem Oei Ing Kiat, pengusaha sekaligus ahli beladiri Tan Kee Wie, dan Raden Panji Margono, keturunan ningrat Jawa yang sering menyamar sebagai orang Tionghoa dengan nama Tan Pan Ciang. Mereka gigih memimpin rakyat untuk menyerang pasukan dan pos pertahanan VOC di Lasem dan sekitarnya, baik dari darat maupun laut. Namun sayangnya, ketiganya gugur dalam perlawanan tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat lokal mengabadikan ketokohan mereka dalam klenteng Gie Yong Bio yang terletak di Desa Babagan, Lasem.[xv] Bahkan, Raden Panji Margono, meski bukan keturunan Tionghoa, juga secara khusus dibuatkan kimsin (patung) dan altar pemujaan dalam klenteng tersebut.[xvi]

Tokoh lain yang berperan penting dalam perang melawan VOC di Lasem adalan Tan Sing Ko alias Babah Singseh. Tan adalah anak buah dari Khe Panjang, pemimpin pasukan Tionghoa yang telah mengobarkan perlawanan terhadap VOC sejak peristiwa pembantaian di Batavia. Setelah bergerak ke wilayah Jawa Tengah, Khe Panjang dan Tan Sing Ko membuat kesepakatan dengan penguasa Mataram untuk bersama-sama melawan VOC di pesisir utara Jawa, termasuk Lasem.[xvii] Setelah usahanya untuk menyerang benteng VOC di Jepara menemui kegagalan, Tan Sing Ko dan pasukannya mundur ke Lasem. Namun nahas, ia ditangkap pasukan VOC dan dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya.[xviii] Jenazahnya kemudian dikuburkan di hutan Desa Dorokandang, Lasem.

Kedua contoh di atas dapat menggambarkan bagaimana komunitas Tionghoa di Lasem sejak berabad-abad lalu telah memiliki hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat. Bahkan, kedua kelompok masyarakat ini tanpa prasangka saling membantu dalam menghadapi Kompeni Belanda. Namun sayangnya, narasi ini masih belum populer bahkan di kalangan masyarakat dan pejabat Lasem sendiri. Baskoro Pop, co-founder Kesengsem Lasem, sebuah komunitas yang bergerak dalam pelestarian warisan budaya di Lasem, menganggap hal itu merupakan “warisan” taktik Kompeni yang sengaja mengaburkan perjuangan lintas etnis di Lasem.[xix] Menurut Baskoro, Tan Sin Ko oleh Belanda sengaja dimakamkan jauh sekali dari permukiman penduduk supaya cerita kepahlawanannya terkubur dan tidak ada yang mengingatnya.[xx] Keprihatinan serupa juga diungkapkan oleh Exsan Ali Setyonugroho, sejarawan Lasem, yang menyebut bahwa ketika peringatan Hari Jadi Kabupaten Rembang, pejabat setempat justru mengunjungi makam para bupati yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial Belanda.[xxi] Ironisnya, makam para pejuang Lasem yang gigih melawan Kompeni, seperti Raden Panji Margono dan Tan Sing Ko, justru tidak pernah masuk dalam daftar kunjungan.

Terlepas dari masih minimnya pengetahuan tentang kepahlawanan tokoh-tokoh Tionghoa dan hubungan baik mereka dengan tokoh setempat, angin perubahan diharapkan dapat bergerak seiring dengan peresmian Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa–Jawa. Dengan perhatian khusus dari perwakilan pemerintah pusat, peresmian tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengarusutamakan narasi perjuangan bersama masyarakat Lasem dalam melawan Kompeni Belanda tanpa memandang latar belakang etnis. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Giring dalam upacara peresmian monumen tersebut, Lasem dengan segala hal di dalamnya, mulai dari warga hingga lanskap tata kotanya, merupakan simbol titik solidaritas persaudaraan dan kebudayaan yang harus dilestarikan.[xxii]

Ignatius Edhi Kharitas, peneliti Forum Sinologi Indonesia


[i] Mukhammad Fadlil, “Meriahnya Pawai KongCo-MakCo Lasem Rembang Usai Vakum 13 Tahun,” Detik Jateng, 20 April 2025, https://www.detik.com/jateng/budaya/d-7877000/meriahnya-pawai-kongco-makco-lasem-rembang-usai-vakum-13-tahun (diakses pada 8 Agustus 2025)

[ii] K. Tatik Wardayati, “Disebut ‘Kota Santri’ dan ‘Tiongkok Kecil’ Karena Datangnya Armada Besar Cheng Ho, Inilah Lasem yang Termasuk dalam 12 Wilayah Pusat Majapahit pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk,” Intisari, 22 Januari 2022, https://intisari.grid.id/read/033107452/disebut-kota-santri-dan-tiongkok-kecil-karena-datangnya-armada-besar-cheng-ho-inilah-lasem-yang-termasuk-dalam-12-wilayah-pusat-majapahit-pada-masa-pemerintahan (diakses pada 8 Agustus 2025)

[iii] Ibid.

[iv] Claudine Salmon dan Xiao Guojian, Chinese Epigraphic Materials in Indonesia: pt.1-2. Java. (Singapura: South Seas Society, 1988)

[v] Ibid.

[vi] Ibid.

[vii] Ibid.

[viii] Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik., (Jakarta: TransMedia, 2008).

[ix] Ibid.

[x] Vera Jenny Basiroen dan Ida Bagus Kerthyayana Manuaba, “The cultural aspect of Javanese and Chinese acculturation in Lasem,” Humaniora, 13(2), (2022): 91-97.

[xi] Sanyoto, “Sebuah Epos Puputan Cina Lasem,” Mimbar Rakyat Edisi XV November, (2009): 6-7.

[xii] Daradjadi Gondodiprojo, Geger Pacinan 1740 -1743: Persekutuan Tionghoa – Jawa melawan VOC, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2017).

[xiii] Nurul Hidayati Septyana, “Sejarah Perkembangan Klenteng Gie Yong Bio di Lasem dan Pengaruhnya Masyarakat 1967 –1998,” Journal of Indonesia History Vol 1 No 2 (2012): 100-109.

[xiv] Ibid.

[xv] Salmon dan Xiao. Chinese Epigraphic Materials

[xvi] Mulyanto Ari Wibowo, “Kisah Raden Panji Margono: Memimpin Laskar Brandal Melawan VOC di Lasem,” Suara Merdeka, 2 Agustus 2025, https://www.suaramerdeka.com/nasional/0415652302/kisah-raden-panji-margono-memimpin-laskar-brandal-melawan-voc-di-lasem?page=4 (diakses pada 8 Agustus 2025)

[xvii] Daradjadi, Perang Sepanjang 1740-1743 Tionghoa-Jawa Lawan VOC, (Jakarta: Pelangi Nusantara, 2008).

[xviii] Ibid.

[xix] Harian Disway, “Series Jejak Naga Utara Jawa (8): Pahlawan yang Dihapus dari Sejarah,” 29 Januari 2023, https://harian.disway.id/read/681320/series-jejak-naga-utara-jawa-8-pahlawan-yang-dihapus-dari-sejarah (diakses pada 8 Agustus 2025)

[xx] Ibid.

[xxi] Wibowo, “Kisah Raden Panji Margono”

[xxii] Fadlil, “Meriahnya Pawai KongCo-MakCo”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *