Pada 13 Mei 2025, Presiden China Xi Jinping menghadiri upacara pembukaan Konferensi Tingkat Menteri ke-4 Forum Komunitas China-Amerika Latin dan Karibia (CELAC Forum) di Beijing. Dalam pidato pembukaan, Xi mengumumkan bahwa China dan Amerika Latin akan bergandengan tangan untuk meluncurkan lima proyek besar guna bersama-sama mengupayakan pembangunan dan revitalisasi, serta membangun Komunitas Masa Depan Bersama (命运共同体 mìngyùn gòngtóngtǐ) bagi China dan Amerika Latin.[1] Dalam rangkaian acara tersebut, Presiden Xi juga bertemu dengan Presiden Brasil Lula da Silva dan Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing untuk menghadiri CELAC Forum. Kepada Presiden Lula da Silva, Xi menegaskan kembali komitmen yang sudah diumumkan tahun sebelumnya dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan bilateral, yakni meningkatkan hubungan menjadi Komunitas Masa Depan Bersama China–Brasil.[2] Sementara dalam pertemuan dengan Presiden Gustavo Petro, Xi menyoroti bergabungnya Kolombia dalam program Belt and Road Initiative (BRI) sebagai momentum peningkatan kerja sama bilateral.[3]
Sebelumnya, pada 13–21 November 2024, Presiden Xi Jinping mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Selatan dalam rangka menghadiri Informal Asia-Pacific Economic Cooperation Leaders’ Meeting ke-31 di Lima, Peru, dan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Rio de Janeiro, Brasil, serta mengadakan pertemuan bilateral dengan presiden masing-masing negara tersebut. Salah satu agenda utama Presiden Xi di Peru adalah bertatap muka dengan Presiden Peru Dina Boluarte, sekaligus menghadiri upacara pembukaan Pelabuhan Chancay, yang dibangun dengan skema BRI, secara virtual di Istana Kepresidenan di Lima, pada 14 November 2024.[4]
China dan Amerika Latin secara geografis memang jauh terpisah. Namun demikian, semakin intensifnya pertemuan bilateral maupun regional pemimpin China dengan negara-negara kawasan Amerika Latin setidaknya dapat menggambarkan upaya China untuk memperkuat kehadiran dan keterlibatannya di sana. Di samping pertemuan antara petinggi negara, China juga menunjukkan keseriusannya dengan meningkatkan kerja sama pembangunan infrastruktur, misalnya Pelabuhan Chancay. Apakah motivasi di balik upaya China tersebut? Peluang dan tantangan apa saja yang dihadapi China dalam memuluskan upayanya itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam artikel singkat ini.
Diplomasi Pelabuhan Laut: Upaya China Bangun Infrastruktur Maritim Global
Di pengujung tahun 2024, istilah “Dari Chancay ke Shanghai” (从钱凯到上海 Cóng Qiánkǎi dào Shànghǎi) ramai bermunculan di media China. Ungkapan ini mengacu pada jalur perdagangan maritim baru yang menghubungkan Pelabuhan Chancay, Peru, dengan Shanghai, China. Pada 18 Desember 2024, kapal Xin Shanghai milik China Shipping Corporation (COSCO), BUMN milik China, secara resmi telah berlabuh di Pelabuhan Yangshan, Shanghai, setelah menempuh pelayaran selama 23 hari dari Chancay.[5] Ini sekaligus menandakan bahwa slogan tersebut sudah menjadi kenyataan.
Pelabuhan Chanchay terletak sekitar 78 km sebelah utara ibu kota Peru, Lima. Pelabuhan ini tergolong pelabuhan laut dalam yang dapat mengakomodasi kapal kontainer ukuran besar. Sebagai salah satu proyek utama BRI di Amerika Latin, pelabuhan ini dibangun dan kini dioperasikan oleh konsorsium yang terdiri atas COSCO dan Volcan, perusahaan swasta asal Peru. Pembangunan dan pengoperasian Pelabuhan Chancay oleh para pengamat hubungan internasional sering kali disebut sebagai bentuk nyata diplomasi pelabuhan laut China.
Diplomasi pelabuhan laut (seaport diplomacy) pada hakikatnya adalah penggunaan pelabuhan laut dan infrastruktur maritim sebagai alat untuk tujuan kebijakan luar negeri, yang sering kali melibatkan investasi dan pembangunan di pelabuhan sepanjang rute perdagangan untuk membina hubungan ekonomi dan politik.[6] Strategi ini sebetulnya bukan fenomena baru di dunia. Namun demikian, China mengklaim memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan kekuatan global lain. Jika dibandingkan dengan strategi Amerika Serikat (AS) yang membangun pangkalan angkatan laut di berbagai belahan dunia untuk melayani strategi keamanan AS dengan tujuan memperkuat aliansi, memerangi terorisme, memperluas pengaruh dan mendukung proksi, strategi China berfokus pada pembangunan ekonomi melalui investasi, perdagangan, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan pusat pelayaran internasional.[7] Strategi ini merupakan bagian dari upaya China untuk meningkatkan kerja sama maritim melalui kerangka kerja BRI, seperti tercantum dalam dokumen “Koridor Ekonomi Biru” (蓝色经济通道Lánsè Jīngjì Tōngdào) yang dirilis oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional bersama dengan Badan Kelautan Nasional pada 20 Juni 2017.[8] Berdasarkan cetak biru tersebut, China berambisi membangun tiga jalur pelayaran utama yang menghubungkan China dengan kawasan Pasifik Selatan, Mediterania, Afrika, Samudra Hindia, Australia, dan Eropa melalui Samudra Arktik.[9] Untuk mewujudkan ambisi itu, China mengerahkan dua BUMN miliknya, yakni COSCO dan China Merchants Group (CMG). Implementasi strategi tersebut juga disesuaikan dengan kondisi kawasan. Di Eropa misalnya, dengan jaringan pelayaran dan pelabuhan komersial yang sudah matang, COSCO dan CMG fokus mengakuisisi kepemilikan saham pelabuhan-pelabuhan penting kawasan tersebut, seperti Pelabuhan Piraeus (Yunani), Zeebrugge (Belgia), dan Valencia (Spanyol).[10] Sementara di negara-negara berkembang, China menawarkan pembangunan pelabuhan model “Shekou” (蛇口), yaitu pembangunan terintegrasi dengan pelabuhan sebagai “garis terdepan,” kawasan industri sebagai “halaman tengah,” dan kota pelabuhan sebagai “halaman belakang.”[11] Pelabuhan Chancay, Peru, adalah salah satu contoh pelabuhan yang mengadopsi model ini.
Mengacu pada dokumen “Koridor Ekonomi Biru,” beroperasinya Pelabuhan Chancay menandai terciptanya koridor baru yang menghubungan China dengan kawasan Pasifik Selatan. Selain sebagai simbol keberhasilan proyek BRI di kawasan itu, China juga memiliki motivasi strategis lain. Sebelumnya, jalur pelayaran dari Peru, dan negara-negara Amerika Latin lain yang menghadap Samudra Pasifik, harus transit melalui AS, misalnya di Pelabuhan Los Angeles atau Long Beach. Dengan adanya jalur pelayaran langsung, China tidak perlu lagi bergantung pada AS yang sikap dan kebijakannya terhadap China semakin sulit diprediksi.
Peluang dan Tantangan Diplomasi Pelabuhan Laut China di Amerika Latin
Kebijakan pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump, terutama terkait kebijakan tarif dan prosedur pemulangan imigran, dirasakan oleh negara-negara Amerika Latin sebagai sumber ketidakpastian. Hal itu tampaknya ditangkap sebagai peluang bagi China untuk meningkatkan pengaruhnya di kawasan itu. Dalam pertemuan antara petinggi negara, seperti telah diuraikan di atas, kata kunci, seperti kerja sama Global Selatan, selalu muncul. Keberhasilan pembangunan dan pengoperasian Pelabuhan Chancay juga semakin meneguhkan komitmen China sebagai mitra yang lebih stabil dan tepercaya.
Secara khusus, Pelabuhan Chancay, telah membuka peluang peningkatan perdagangan antara China dengan Peru dan negara-negara Amerika Latin di pesisir Pasifik. China memerlukan pasar baru kendaraan listrik dan panel surya.[12] Apalagi, komoditas tersebut mendapatkan hambatan tarif dari pasar-pasar potensial, seperti Amerika Utara dan Uni Eropa. Sebaliknya, China akan lebih mudah mengimpor komoditas pertanian dari Peru, seperti alpukat, anggur, dan blueberry.[13] Selain itu, impor mineral yang berperan penting dalam industri kendaraan listrik China, seperti tembaga dan lithium, dari Chili juga semakin dipermudah.
Di balik peluang itu, terdapat sejumlah tantangan terhadap peningkatan kehadiran China di Peru, maupun di Amerika Latin secara lebih luas. Secara eksternal, AS telah mengambil langkah-langkah yang tegas untuk membatasi pengaruh China di Amerika Latin. Misalnya, pada 6 Februari 2025, Presiden Panama Jose Raul Mulino mengonfirmasi bahwa negaranya telah menarik diri dari proyek BRI. Keputusan ini dikeluarkan hanya beberapa hari setelah kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke Panama. Meski keterkaitan dua kejadian tersebut tidak diungkap secara langsung, China dengan tegas menentang pencemaran nama baik dan sabotase AS terhadap kerja sama BRI melalui cara-cara penekanan dan pemaksaan.[14]
Secara internal, tantangan juga muncul dari publik Peru. Seperti di banyak tempat lain, salah satu yang sering diungkapkan adalah kekhawatiran terkait isu keamanan. Walau pelabuhan yang dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan China seluruhnya bersifat komersial, muncul kekhawatiran pelabuhan tersebut bisa dialihkan untuk keperluan militer. Pasalnya, undang-undang China mewajibkan perusahaannya yang bergerak di industri transportasi internasional untuk mendukung kegiatan militer.[15] Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas kekuasaan Beijing atas koridor energi internasional, jalur laut, dan proyek infrastruktur internasional, termasuk soal risiko spionase dan kebocoran data dalam proyek tersebut.[16]
Selanjutnya, berkat kepemilikan aset pelabuhan di luar negeri yang semakin banyak, China memiliki pengaruh ekonomi yang semakin kuat. Hal ini dapat memaksa negara tuan rumah untuk menyeimbangkan otonomi komersial dan politik mereka. Sebagai gambaran, dewasa ini China memiliki aset di 191 pelabuhan di 88 negara, yang menimbulkan kekhawatiran di banyak negara Amerika Latin terkait koersi ekonomi.[17]
Ignatius Edhi Kharitas, adalah peneliti Forum Sinologi Indonesia (FSI)
[1] 中华人民共和国中央人民政府, “习近平出席中拉论坛第四届部长级会议开幕式并发表主旨讲话,” 13 Mei 2025 https://www.gov.cn/yaowen/liebiao/202505/content_7023574.html (diakses pada 1 Juni 2025)
[2] 中华人民共和国外交部, “习近平同巴西总统卢拉会谈,” 13 Mei 2025 https://www.fmprc.gov.cn/zyxw/202505/t20250513_11622145.shtml (diakses pada 1 Juni 2025)
[3] 中华人民共和国外交部,”习近平会见哥伦比亚总统佩特罗,” 14 Mei 2025 https://www.fmprc.gov.cn/zyxw/202505/t20250514_11622603.shtml (diakses pada 1 Juni 2025)
[4] 中华人民共和国外交部, “习近平同秘鲁总统博鲁阿尔特以视频方式共同出席钱凯港开港仪式,” 15 November 2024, https://www.mfa.gov.cn/wjdt_674879/gjldrhd_674881/202411/t20241115_11526907.shtml (diakses pada 1 Juni 2025)
[5]宋亦然, “‘从钱凯到上海”已成为现实,” Renmin Ribao, 25 Desember 2024, http://paper.people.com.cn/rmrb/pc/content/202412/25/content_30048067.html
[6] Sun Degang, “China’s Seaport Diplomacy: Theories and Practice,” China Economist 13, no. 6 (2018): 34-48.
[7] Ibid.
[8] 中国 一带一路网, “蓝色经济通道,” 20 Februari 2019, https://www.yidaiyilu.gov.cn/p/80078.html (diakses pada 1 Juni 2025)
[9] Ibid.
[10] Haram Kamran, “Chinese Port Power,” Modern Diplomacy, 18 Mei 2024, https://moderndiplomacy.eu/2024/05/18/chinese-port-power/ (diakses pada 1 Juni 2025)
[11] Sun, “China’s Seaport Diplomacy”
[12] 宋, “从钱凯”
[13] Ibid.
[14] 中华人民共和国外交部, “2025年2月7日外交部发言人林剑主持例行记者会,” 7 Februari 2025, https://www.fmprc.gov.cn/fyrbt_673021/jzhsl_673025/202502/t20250207_11550963.shtml (diakses pada 1 Juni 2025)
[15] Kamran, “Chinese Port Power”
[16] Ibid.
[17] Ibid.

Leave a Reply