Thee Kian Wie dan Sejarah Perekonomian Indonesia

Bagi para sarjana yang mempelajari sejarah Indonesia, khususnya di bidang sejarah perekonomian, nama Thee Kian Wie (戴建偉) bukanlah nama yang asing. Pria yang akrab dipanggil dengan sebutan Pak Thee itu merupakan seorang sarjana di bidang perekonomian Indonesia dengan kekhususan pada sejarah ekonomi Indonesia yang sangat dihormati kepakarannya. Hal penting dan menarik apa yang dapat kita pelajari dari kisah hidupnya? Apa saja sumbangsihnya dalam bidang sejarah ekonomi Indonesia? Bagaimana kita memaknai pengabdiannya dalam konteks pembangunan bangsa Indonesia? Artikel singkat ini merupakan sebuah upaya kecil untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Thee lahir di Batavia (sekarang Jakarta), pada 20 April 1935. Pada tahun 1959, ia berhasil lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menempuh studi pascasarjana di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat (AS).1 Pada tahun 1966, ketika terjadi gejolak politik di Indonesia seiring dengan runtuhnya kepemimpinan Bung Karno, sentimen anti-Tionghoa juga turut meningkat. Thee, yang sedang berada di AS, mendapat surat dari pemerintah Republik Indonesia berisikan perintah untuk membuang nama Tionghoanya serta melupakan sejarah asal usulnya. Thee sungguh marah lalu merobek-robek surat tersebut karena ia berpegang teguh pada identitas ketionghoaannya dan tidak mau untuk melupakan akar sejarahnya.2 Thee, yang fasih berbahasa Belanda, Jerman dan Inggris, tentunya dapat saja memilih untuk berkarier di luar negeri, terlebih karena faktor sentimen anti-Tionghoa yang saat itu merebak di Indonesia, namun ia memilih untuk kembali ke Indonesia setelah meraih gelar doktor untuk berkontribusi pada pengembangan perekonomian Indonesia serta pendidikan para ekonom masa depan Indonesia. Ini adalah sebuah keputusan yang berani, terlepas dari surat yang sebelumnya telah ia terima.

Thee, sebagai seorang sejarawan ekonomi, melihat ekonomi bukan hanya sebagai kumpulan angka, juga bukan hanya sebatas bagaimana mengelola sumber daya. Namun, ia berpikir dengan perspektif yang lebih besar, yaitu melihat kondisi perekonomian suatu negara sebagai cerminan dari situasi kondisi peradaban itu sendiri. Ia percaya bahwa pembangunan perekonomian Indonesia merupakan upaya nation building dalam rangka membangun masa depan Indonesia, tanah air tempatnya mengabdi. Ia mampu melihat perekonomian sebagai suatu fitur dari peradaban. Layaknya setiap bangsa pasti memiliki kebudayaan, sistem keyakinan, dan sistem pemerintahan, studi mendalam akan sistem perekonomian Indonesia dapat menggambarkan karakteristik, permasalahan, hingga proyeksi masa depan dari bangsa Indonesia itu sendiri. Keahlian mengenai sejarah perekonomian Indonesia memungkinkannya untuk dapat memahami mengapa dan bagaimana Indonesia dapat berada dalam posisinya saat ini, serta apa saja keunggulan dan kekurangan dari bangsa ini. Dan tentunya, sebagai seorang ekonom, perubahan apa yang perlu dilakukan untuk membawa arah perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik.

Thee adalah seorang akademisi yang sangat produktif. Publikasi internasionalnya dalam bahasa Inggris tercatat mencapai 8 buku, 9 volume kolektif, 17 artikel di jurnal ilmiah, 45 bab dalam buku, dan 38 artikel akademik.3 Di samping itu, ia juga aktif menulis artikel di media massa, jurnal akademik, dan menulis buku dalam bahasa Indonesia. Ia telah melahirkan beberapa magnum opus yang menjadi rujukan bagi para akademisi, baik domestik maupun dari mancanegara, yang berniat untuk memahami perekonomian Indonesia. Bukunya yang berjudul The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia, 1800–2000, terbit pada tahun 2002, berisikan penelusuran jejak munculnya perekonomian di wilayah Nusantara sejak 1596 ketika Cornelis Houtman pertama kali menjejakan kakinya di kepulauan Nusantara, yang saat itu secara politis masih merupakan kerajaan dan suku yang hidup masing-masing dengan perekonomian terpisah satu sama lain, hingga era puncak rezim kolonial Hindia Belanda dengan terbentuknya sistem perekonomian kolonial yang ekstraktif, serta upaya Republik Indonesia yang baru merdeka untuk mengubah sistem perekonomian kolonial menjadi perekonomian nasional Indonesia. Tidak berhenti pada masa lampau, ia turut memperluas studinya hingga ke perekonomian Indonesia kontemporer. Bukunya yang berjudul Indonesia’s Economy since Independence, terbitan tahun 2012,4 telah menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mendapat gambaran mengenai bagaimana terbangunnya perekonomian Indonesia modern. Ia juga banyak menghasilkan karya akademis yang terlalu panjang apabila dirincikan satu per satu. Secara umum, karya akademisnya meliputi aspek-aspek, seperti studi perekonomian Indonesia zaman penjajahan Jepang, studi mengenai penerapan teknologi dalam perekonomian Indonesia, penanaman modal asing di Indonesia, pembangunan perekonomian di Indonesia, kebijakan industrialisasi Indonesia, hingga berbagai topik perekonomian lainnya.5

Thee, sebagai seorang begawan ilmu ekonomi, menekankan bahwa mempelajari sejarah perekonomian suatu bangsa merupakan hal yang penting dan tidak bisa dilewatkan untuk memandu proyeksi masa depan kebijakan perekonomian suatu negara. Dengan demikian, permasalahan ekonomi yang melanda Indonesia saat ini tentu memiliki akar sejarah, dan solusi atas permasalahan tersebut harus berkaca pada akar permasalahannya. Ia secara konsisten mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan perekonomian terbuka pada investasi asing, terbebas dari mentalitas periode kolonial yang membelenggu pola pikir pejabat negara dalam mengelola perekonomian. Fokus pada investasi pada sektor infrastruktur dipandang sebagai hal yang amat krusial, demikian pula peningkatan kualitas sektor kesehatan dan pendidikan bagi khalayak umum untuk mendorong terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Tidak kalah pentingnya, ia juga berani untuk mengkritik lemahnya penegakan hukum dan permasalahan korupsi sistemik yang melanda Indonesia. Ia mengingatkan, apabila permasalahan tersebut tidak segera diatasi, Indonesia tidak akan bisa menjadi negara dengan perekonomian yang maju dan sejahtera.6

Kepakaran Thee sebagai ahli ekonomi berulang kali diapresiasi oleh para akademisi dan pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2000, Bulletin of Indonesian Economic Studies, sebuah jurnal bereputasi internasional dengan indeks scopus tertinggi Q1 yang dikelola oleh Australian National University (ANU), bahkan sampai menerbitkan edisi khusus yang spesifik membahas karya akademik Thee. Ini merupakan suatu kehormatan bagi satu-satunya ekonom Indonesia yang mendapat apresiasi setinggi itu. Kemudian pada tahun 2004, ANU turut memberikan gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) kepada Thee atas kepakarannya dalam bidang perekonomian Indonesia. Dari dalam negeri, pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2002 memberikan tanda jasa Bintang Jasa Utama dan Bintang Jasa Nararya. Kemudian pada tahun 2006, Thee memperoleh penghargaan Habibie Award atas kontribusinya bagi penelitian ekonomi di Indonesia. Pada 2008, Thee memperoleh Sarwono Prawirohardjo Award atas pengabdiannya bagi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lembaga penelitian ilmiah KITLV di Leiden, Belanda, juga memberikan keanggotaan kehormatan pada Thee di tahun 2010 sebagai apresiasi atas perannya menjembatani para akademisi Belanda dan Indonesia di bidang perekonomian. Kemudian, para koleganya juga membuat buku secara kolektif sebagai tribut atas segala pencapaiannya di usianya yang ke 75.7

Pendek kata, Thee merupakan salah seorang cendikiawan Indonesia yang menjadi rujukan utama di bidangnya, yang keahliannya juga diakui di seluruh dunia. Di samping itu, sebagai seorang tokoh Tionghoa Indonesia, ia mengabdikan hidupnya bagi tanah airnya, Indonesia, dengan berbagai pencapaian dan karya akademis yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Thee membuktikan bahwa seorang Tionghoa bisa menjadi Indonesia dengan tetap mempertahankan identitas ketionghoaannya. Ia adalah seorang patriot Indonesia yang mengabdikan hidupnya bagi pembangunan perekonomian Indonesia.

Septeven Huang, peneliti mitra Forum Sinologi Indonesia dan mahasiswa Program Pascasarjana Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI).


Referensi:

1. Thomas Lindblad, “In Memoriam Thee Kian Wie,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 170, No. 2/3 (2014): pp.187-190.

2. Tom McCawley, “Remembering Thee Kian Wie, Indonesian economist andsharp critic of government,” Lowy Institute, 3 Maret 2014, tersedia daring pada https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/remembering-thee-kian-wie-indonesian-economist-sharp-critic-government  (diakses pada 10 November 2025).

3. Lindblad, “In Memoriam”.

4. Maria Monica Wihardja & Siwage Dharma Negara, “The Indonesian Economy from the Colonial Extraction Period until the Post-New Order Period: A Review of Thee Kian Wie’s Major Works,” Economics and Finance in Indonesia,  Vol. 61 (2015): pp. 41-52.

5. Leo Suryadinata, Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 1995): pp. 315-317.

6. Wihardja & Negara, “The Indonesian Economy.”

7. Hal Hill, Siwage Dharma Negara & Maria Monica Wihardja, “In Memoriam: Thee Kian Wie: Dedicated Scholar and Public Intellectual,” Bulletin of Indonesian Economic Studies, 50(2), (2014): pp. 277–287.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *