Bulan Mei 2024, Angkatan Laut (AL) China menguji coba kapal induk terbarunya, yang bernama Fujian. Peluncuran Fujian memperkuat armada AL China menjadi tiga kapal induk dan memperlihatkan pesatnya modernisasi militer China. Berbeda dari dua kapal induk China lainnya, Fujian mengusung teknologi katapel pelontar pesawat berdaya elektromagnetik yang hingga kini hanya dimiliki Amerika Serikat (AS).1 Peluncuran Fujian memperkuat pandangan bahwa di abad ke-21 ini China tidak hanya merupakan kekuatan militer Asia, tetapi juga kekuatan global yang tampak ingin menyusul AS.
Bulan Maret 20234 lalu, pemerintah China juga mengumumkan kenaikan belanja militer sebesar 7,2 persen menjadi 1,66554 triliun yuan atau sekitar 233 miliar dolar AS dari jumlah sebelumnya yang senilai 219 milyar dolar.2 Tetapi, nilai ini hanya setara dengan 1,25% dari Produk Domestik Bruto (PDB) China atau di bawah rata-rata persentase anggaran militer dunia yang sebesar 1.8% PDB.3 Apalagi, belanja militer AS masih menjadi yang terunggul di dunia, senilai 905.5 milyar dolar AS atau setara dengan 40.5% dari total belanja militer dunia.4
Namun, tetap saja kenaikan belanja militer China di atas menarik perhatian bagi para pemerhati negara itu. Apalagi kenaikan itu terjadi ketika ekonomi China sedang melesu. Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi China kini tersandung beragam persoalan “struktural,” seperti berkurangnya tenaga kerja usia produktif, melemahnya daya tarik investasi, dan menurunnya produktivitas industri. Pandemi Covid-19 telah memangkas pertumbuhan ini secara drastis.5 Tahun 2023, China hanya tumbuh 5,2%. Sementara tahun ini, angka tersebut turun ke 4,5%. Padahal, hingga satu dasawarsa lalu, ekonomi China masih tumbuh rata-rata 9% per tahun. Lantas, yang penting untuk ditanyakan adalah mengapa modernisasi militer China melejit justru saat ekonominya sedang melesu? Apa dampak modernisasi ini bagi Indonesia? Tulisan singkat ini mencoba memberi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini.
Perlombaan Senjata AS—China?
Pastinya, persepsi China terhadap ancaman geopolitik dari AS dan negara-negara lain menjadi salah satu faktor utama pendorong modernisasi militer China. Ketegangan Beijing dengan berbagai kekuatan di dalam maupun luar kawasan Asia Pasifik semakin meningkat seiring dengan mencuatnya berbagai isu, mulai dari isu terkait upaya Beijing untuk memaksakan penyatuan Taiwan, sengketa Laut China Selatan dan Laut China Timur, hingga ke sengketa perbatasan darat dengan India. Sedangkan di dalam negeri, pemerintahan di bawah Partai Komunis China (PKC) itu masih harus menghadapi berbagai persoalan, seperti persoalan separatisme di Xinjiang dan Tibet.6 Hadirnya berbagai isu yang dianggap sebagai ancaman bagi China tersebut memunculkan kebutuhan pertahanan yang berbeda-beda untuk menghadapinya. Kebutuhan dalam alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi salah satu dari kebutuhan-kebutuhan itu.
Meski demikian, apakah segala ancaman yang dijabarkan di atas membuat China merasa perlu untuk memasuki arena “perlombaan militer,” termasuk perlombaan alutsista dengan AS? Jawaban bagi pertanyaan di atas adalah belum tentu. Walau memiliki ambisi global, China tetap menjadikan pertahanan jarak dekat sebagai prioritas. Istilah pertahanan jarak dekat ini mengacu pada “rantai kepulauan” pertama dan kedua di sepanjang pesisir laut China.7 Taiwan dan Laut China Selatan termasuk dalam rantai kepulauan pertama yang terbentang hingga ke Laut Natuna Utara dalam wilayah perairan Indonesia. Di sinilah China berupaya mengungguli AS tak hanya dalam seni perang, namun juga dalam teknik pertempuran. Demi keunggulan ini, Beijing tidak serta merta menjiplak kemampuan militer AS yang mengharuskan armadanya melintasi semua samudra dan benua. Untuk mengungguli AS, China cukup memastikan rantai kepulauan tersebut berubah jadi “neraka dan kuburan” bagi kehadiran militer AS dan sekutunya.8
Dengan kata lain, kapal induk seperti Fujian belum tentu jadi alutsista andalan China. Kemampuan serang jarak jauh yang berpangkal di daratan bisa jadi lebih penting dan menentukan dalam pertempuran lintas laut dan udara. Rudal kendali berpeluru hipersonik (hypersonic glide vehicles) dan rudal balistik anti-kapal permukaan (anti-ship ballistic missiles) justru lebih mematikan bagi AS daripada kemampuan kapal induk China.9 Lagipula, AS lebih unggul tidak hanya dari jumlah kapal induk, tetapi juga dalam kemampuan teknologi alutsista anti-kapal permukaan. Artinya, kapal induk bukanlah alutsista paling ampuh bagi China untuk menghadapi AS. Ketimbang alutsista “besar” seperti Fujian, besar kemungkinan belanja militer China lebih banyak terserap dalam pengembangan teknologi nirawak (drone) serbu dan rudal canggih berbasis daratan yang didukung sistem siber mutakhir, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence).10
Bila penjelasan di atas benar, kita bisa menyimpulkan bahwa fokus utama persaingan China dengan AS bukanlah dalam hal keunggulan alutsista, tetapi dalam keunggulan siasat. Bagi Beijing, tampaknya siasatlah yang lebih menentukan pilihan dan terobosan teknologi, bukan sebaliknya. Keunggulan siasat adalah prioritas modernisasi militer China, bukan teknologi. Demi mendukung siasat rantai kepulauannya, Beijing terbukti mampu memanfaatkan terobosan teknologi baru yang bisa menambah daya mematikan dari alutsista lama atau alutsista biasa, seperti halnya rudal.
Dampak bagi Indonesia
Jika demikian, lalu apa dampak dari modernisasi militer China itu bagi Indonesia? Jelas, kedekatan jarak geografis menjadikan kekuatan militer China sebagai faktor geopolitik yang patut diperhitungkan oleh Indonesia. China telah muncul sebagai kekuatan militer adidaya baru bagi Indonesia yang di abad ke-20 lebih “terbiasa” berhadapan dengan AS dan sekutunya dari dunia Barat. Di abad ke-21 ini, muncul perkembangan baru: militer China akan sering melintasi, bahkan memadati wilayah perairan dan ruang udara Indonesia.
Di luar senjata nuklir sebagai penjamin daya gentar (deterrence), militer China memiliki kemampuan serang (offense) dan gerak (mobility) konvensional jarak jauh. Kemampuan serang jarak jauh bisa berpangkal di daratan, seperti rudal hipersonik, sementara kemampuan geraknya bersifat lintas samudra atau lintas benua, seperti halnya kapal induk. Bisa saja kedua kekuatan ini tergabung dalam satu alutsista yang sama. Misalnya, kapal selam tenaga nuklir China yang dipersenjatai rudal jelajah berjarak jangkau ribuan kilometer. Kemampuan serang dan gerak mungkin saja hadir bersamaan.
Lalu, bagaimana kemampuan jarak jauh militer China ini berdampak bagi Indonesia? Gelar militer AS di sekitar Indonesia, seperti Australia, Singapura, Filipina, dan Guam jadi calon kuat sasaran alutsista China itu. Suatu saat nanti, besar kemungkinan kapal induk China akan berlatih atau bahkan beroperasi di Samudra Hindia melalui selat atau laut wilayah Indonesia, termasuk menerbangkan pesawat-pesawat tempur canggihnya ketika melintas. Paling tidak, armada kapal induk China ini mampu “unjuk gigi” dekat Australia atau pangkalan militer AS di Samudra Hindia sebagai alat diplomasi militer Beijing di masa damai.
Namun, persoalan yang lebih rumit muncul dari kekuatan serang jarak jauh dari daratan China sendiri. Meski China terus mengejar ketertinggalan militer dari AS, selisih kekuatan di antara dua negara ini kemungkinan tetap ada. Sulit rasanya membayangkan belanja militer China akan menyamai AS dalam waktu dekat ini. Bisa jadi, risiko terbesar bagi Indonesia tidak berasal dari perlombaan senjata AS—China, namun lebih pada perlombaan siasat di antara keduanya. Sadar akan keunggulan militer AS, China mungkin akan menghindari pertempuran jarak jauh antara kapal induk berikut pesawat tempurnya dengan AS dan sekutunya. Artinya, kapal indukkemungkinan bukanlah ujung tombak militer China di rantai kepulauan pertama. Bisa jadi, kekuatan utama China justru akan bertumpu pada kemampuan rudal ataupun teknologi nirawak yang berbasis di daratan.
Sementara itu, seperti halnya China, AS dan sekutunya akan melintasi wilayah Indonesia ketika melaksanakan kegiatan atau operasi lintas samudra dan benua, misalnya dari Australia ke Laut China Selatan atau Taiwan. Bagi China, kehadiran militer AS ini jadi ancaman serius ketika pertempuran di Laut China Selatan atau Taiwan sedang berlangsung. Kemampuan serang jarak jauh China, seperti rudal hipersonik dan rudal balistik anti-kapal, sangat berarti dan menentukan, meski sebagian kalangan masih menyangsikan akurasinya.11 Tanpa perlu mengorbankan pilot dan pelautnya, militer China dari daratan bisa melumpuhkan kekuatan AS dan sekutu langsung di sumbernya, seperti di daratan Australia, atau ketika mereka melintasi wilayah Indonesia. Artinya, rudal jarak jauh China akan melintasi ruang laut dan udara Indonesia untuk menyerang sasaran-sasaran di wilayah selatan, bila tidak di wilayah kita sendiri.12
Kemungkinan ini berpotensi menjadikan wilayah Indonesia sebagai ajang adu kekuatan dan ruang laga bagi militer negara-negara lain. Dalam kemungkinan tersebut, Indonesia bisa saja memilih netral. Namun, netralitas di sini jelas tidak menjamin keselamatan, apalagi keamanan, wilayah Indonesia dari serangan jarak jauh China. Demi keamanan nasional, mungkin sudah saatnya Indonesia mencari pilihan yang lebih tepat dari pada sekedar menjaga netralitas.
Referensi:
- Bloomberg News, “China’s Third and Largest Aircraft Carrier Heads for Sea Trials,” gCaptain, 1 Mei 2024, https://gcaptain.com/chinas-third-and-largest-aircraft-carrier-heads-for-sea-trials/
- China’s Ministry of Finance, Report on the Execution of the Central and Local Budgets for 2023 and on the Draft Central and Local Budgets for 2024, 5 Maret 2024,https://npcobserver.com/wp-content/uploads/2024/03/2024-MOF-Report_EN.pdf, hlm. 31.
- Meia Nouwens and Fenella McGerty, “China’s Defence Budget Boost Can’t Mask Real Pressures,” International Institute for Strategic Studies, 8 Maret 2024, https://www.iiss.org/en/online-analysis/military-balance/2024/03/chinas-defence-budget-boost-cant-mask-real-pressures/#:~:text=China’s%2014th%20National%20People’s%20Congress,Balance%2B%20on%208%20March%202024.
- Baca diagram halaman 14. International Institute for Strategic Studies, The Military Balance 2024, hlm. 14.
- World Bank Group, “The World Bank in China,” April 2024, https://www.worldbank.org/en/country/china/overview
- China’s Ministry of Defence, “China’s Defensive National Defense Policy in the New Era,” n.d.,http://eng.mod.gov.cn/xb/DefensePolicy/index.html.
- Ristian Atriandi Supriyanto, “Adu Siasat Pertahanan ‘Rantai Kepulauan’ China dan Keamanan Indonesia di Laut China Selatan,” Forum Sinologi Indonesia, 11 Maret 2024, https://forumsinologi.id/adu-siasat-pertahanan-rantai-kepulauan-china-dan-keamanan-indonesia-di-laut-china-selatan/
- Andrew S. Erickson dan Joel Wuthnow, “Barriers, Springboards and Benchmarks: China Conceptualizes the Pacific ‘Island Chains’,” The China Quarterly, 225 (Maret 2016): 1-3.
- Gerry Doyle dan Blake Herzinger, China’s Anti-Ship Ballistic Missiles and Theater of Operations in the Early 21st Century (Warwick, UK: Helion, 2022).
- Bernhard Seyringer, “Artifical Intelligence: A Chinese ‘Assassin’s Mace’,” The Defence Horizon Journal, 10 June 2021, https://tdhj.org/blog/post/artificial-intelligence-china-assassins-mace/.
- Veerle Nouwens et. al., “Long-range Strike Capabilities in the Asia-Pacific: Implications for Regional Stability,” The International Institute for Strategic Studies, January 2024, hlm. 12. https://www.iiss.org/globalassets/media-library—content–migration/files/research-papers/2024/01/iiss_long-range-strike-capabilities-in-the-asia-pacific_implications-for-regional-stability_012024.pdf
- Misalnya, rudal hipersonik DF-17 dan rudal anti-kapal DF-26 masing-masing berjarak jangkau lebih dari 1.500 km dan 3,000 km. Dengan jarak ini, rudal-rudal mampu menjangkau sasaran gerak maupun diam sebagian wilayah Indonesia. Lihat peta 2.1 di Nouwens et. al., “Long-range Strike Capabilities,” hlm. 16.
Ristian Atriandi Supriyanto adalah dosen Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, dan peneliti mitra (research fellow) Forum Sinologi Indonesia.

Leave a Reply