China Hadirkan Ancaman De Facto di Laut China Selatan

Dilansir dari keterangan pers yang dimuat dalam sejumlah media, antara lain detik.com, sindonews.com, tribunnews.com, wartaekonomi, viva.co.id, kompas.com, mediaindonesia,com, naturhoy.com, cna.com, dosen Prodi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan RI, Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto S.H., M.H. mengatakan bahwa permasalahan antara Indonesia dan China di Laut China Selatan (LCS) berasal dari klaim China terhadap wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. China menarik garis putus-putus sebagai tanda kepemilikannya atas sebagian ZEE Indonesia di perairan dekat Kepulauan Natuna, sebuah perairan yang sejak 2017 dinamakan sebagai Laut Natuna Utara. Ia menegaskan bahwa klaim China tersebut bukan hanya terkait hak menangkap ikan yang menurut mereka telah mereka lakukan di sana dalam sejarah, tetapi juga klaim terhadap landas kontinen Indonesia, yang menentukan hak Indonesia untuk dapat melakukan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam di bawah laut.

Meskipun klaim tersebut tidak berdasar dan dinilai ilegal menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), China tetap melakukan berbagai aktivitas untuk menegakkan klaimnya tersebut. Surya melihat secara de facto, China menghadirkan ancaman di LCS, meski secara de jure, Indonesia tidak memiliki tumpang tindih klaim dengan China. Hal ini ia sampaikan dalam acara seminar berjudul “Ancaman China di Laut China Selatan: Antara Persepsi dan Realita,” yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) bersama Pusat Studi G20 Universitas Pelita Harapan (UPH) pada Jumat, 21 Juni 2024, lalu.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi G20 UPH, Amelia J.R. Liwe, Ph.D., menyatakan bahwa Indonesia diharapkan memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi ancaman China di LCS, demi mempertahankan prinsip-prinsip Indonesia. Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Akan tetapi, bebas dan aktif bukan berarti tidak punya prinsip. Dengan memegang prinsip itu, Indonesia akan memainkan peran yang besar di kancah regional dan internasional. 

Mendukung diskusi mengenai sikap tegas terhadap China di LCS, Edna Caroline, co-founder dari Indonesia Strategic and Defense Studies (ISDS) juga mengemukakan hasil jajak pendapat publik yang dilakukan oleh ISDS beberapa waktu yang lalu. Hasil survey ISDS mencatat 78,9 % responden berpandangan bahwa kehadiran China di Laut China Selatan membawa ancaman bagi negara-negara ASEAN, sedangkan 73,1 %  responden menganggap China menghadirkan ancaman bagi Indonesia. 

Yang menarik, Edna mengemukakan bahwa generasi Y (Millennial) dan Z termasuk di antara responden yang setuju terhadap persepsi ancaman dari China. Lalu, sebagian besar (39,1 %) responden beranggapan bahwa Indonesia dapat memperkuat kedaulatan Indonesia di LCS dengan menjalin kemitraan bersama negara-negara ASEAN, sedangkan 16,7% menganggap Amerika Serikat (AS) sebagai mitra yang tepat.

Di penghujung acara, Johanes Herlijanto juga mengemukakan pandangan bahwa persepsi China sebagai ancaman dapat ditelusuri hingga ke pertengahan abad yang lalu. Persepsi China sebagai ancaman sangat dominan di era pemerintahan Orde Baru, dan terus bertahan hingga rezim tersebut berakhir. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah kecurigaan bahwa China telah melakukan intervensi dan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dengan memberikan bantuan pada Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan kudeta yang gagal pada tahun 1965.

Setelah runtuhnya rezim Orde Baru, tepatnya di zaman pemerintahan Presiden Yudhoyono, persepsi terhadap China di kalangan publik di Indonesia, khususnya kelas menengah, bergeser menjadi positif. Namun, persepsi negatif kembali mendominasi publik sejak tahun 2015.

Johanes menyatakan hal ini terjadi karena sebab dari berkembangnya media baru yang membuka arus informasi terkait tingkah laku China di dunia internasional, serta semakin intensifnya hubungan ekonomi Indonesia China yang diwarnai dengan berbagai isu. Isu ini termasuk isu pekerja migran ilegal, kekhawatiran ketergantungan Indonesia terhadap China, dan sikap China yang makin agresif dan asertif di Laut China Selatan.

Menutupi sesi seminar kali ini, Johanes menyatakan dalam menanggapi pandangan kritis dan persepsi negatif China yang semakin berkembang, pemerintah Indonesia perlu mempertahankan kehati-hatian dalam menjalankan kerja sama ekonomi dengan China, sambil tetap menjaga (atau bahkan meningkatkan) sikap tegas, khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kedaulatan dan kemandirian Indonesia.

Sumber Berita:

  1. https://www.kompas.com/edu/read/2024/06/21/190523471/seminar-pusat-studi-g20-uph-dan-fsi-isu-laut-china-selatan-bukan-di-ruang
  2. https://headtopics.com/id/tiongkok-disebut-hadirkan-ancaman-defacto-di-laut-china-54610293
  3. https://edukasi.sindonews.com/read/1401091/211/seminar-pusat-studi-g20-uph-dan-fsi-china-ancaman-de-facto-di-laut-china-selatan-1719025567
  4. https://www.viva.co.id/english/1725536-indonesia-urged-to-maintain-sovereignty-amid-china-s-south-china-sea-aggressions
  5. https://www.jpnn.com/news/tiongkok-disebut-hadirkan-ancaman-defacto-di-laut-china-selatan
  6. https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/tiongkok-disebut-hadirkan-ancaman-defacto-di-laut-china-selatan/ar-BB1oGpZV
  7. https://wartaekonomi.co.id/read537579/china-hadirkan-ancaman-defacto-di-laut-china-selatan
  8. https://news.detik.com/berita/d-7403406/china-dinilai-hadirkan-ancaman-de-facto-di-laut-china-selatan
  9. https://m.tribunnews.com/nasional/2024/06/22/kerap-provokasi-tiongkok-jadi-ancaman-nyata-di-laut-china-selatan-indonesia-harus-bersikap-tegas
  10. https://www.naturahoy.com/2024/06/indonesia-insta-a-mantener-su-soberania-ante-la-agresion-de-china-en-el-mar-meridional-de-china/
  11. https://www.cna.com.tw/news/aopl/202406210365.aspx#

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *