SHANGRI-LA DIALOGUE 2026 DAN DISKURSUS INTERNASIONAL SEPUTAR KEAMANAN WILAYAH ASIA PASIFIK: WAWANCARA DENGAN Dr. KLAUS HEINRICH RADITIO, S.J.

RINGKASAN EKSEKUTIF

  • Shangri-La Dialogue merupakan forum yang cukup terpandang di kalangan pejabat pertahanan lintas negara, dan merupakan ajang untuk berkomunikasi dan bertukar pandangan. Namun demikian, sebagai dikemukakan oleh Dr. Klaus Heinrich Raditio, S.J, sementara pihak menganggap forum ini memiliki kedekatan dengan perspektif Barat.
  • Dr. Raditio menganggap ketidakhadiran Menteri Pertahanan (Menhan) Tiongkok, Dong Jun, dalam Shangri-La Dialogue tahun 2026 patut disayangkan. Sangat mungkin, ketidakhadirannya disebabkan oleh kekhawatiran terhadap peluang dirinya dijadikan sorotan dan target kritik ketika sesi tanya jawab terbuka dalam forum tersebut. Meski demikian, delegasi Tiongkok yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Meng Xiangqing dinilai cukup mumpuni dan mewakili pandangan resmi pemerintah Tiongkok mengenai isu yang dibicarakan.
  • Komentar Menhan Filipina yang menganggap Tiongkok sebagai sebab masalah di Laut Tiongkok Selatan dipandang kurang berdampak positif dalam upaya mencapai kesepakatan Code of Conduct (COC) yang ditargetkan selesai pada tahun 2026 ini.
  • Sementara itu, Dr. Raditio memuji pernyataan Menhan Singapura Chan Chun Sing yang mengedepankan solidaritas ASEAN dibandingkan dengan keberpihakan, baik pada China maupun Amerika Serikat. Menurut Dr. Raditio, pandangan di atas harus dipegang oleh semua negara ASEAN sehingga ASEAN tidak menjadi tunggangan rivalitas strategis antara negara-negara besar.

PENGANTAR

Pada 29–31 Mei 2026, bertempat di Singapura, diselenggarakan Shangri-La Dialogue yang ke-23 oleh The International Institute for Strategic Studies (IISS). Perhelatan ini dihadiri oleh menteri pertahanan serta kepala pemerintahan dari berbagai negara. Selain peserta yang hadir mewakili pemerintahan negara mereka, forum bergengsi ini dihadiri pula oleh para peserta non-pemerintah. Mereka antara lain terdiri dari para pemerhati hubungan internasional, khususnya yang memusatkan perhatian pada isu keamanan dan geopolitik.  

Dalam Shangri-La Dialogue 2026 yang baru saja berlalu itu, secara khusus mencuat pembicaraan mengenai berbagai isu keamanan dan geopolitik yang berkaitan dengan Tiongkok dan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN). Isu yang cukup hangat dibahas dalam forum tersebut ialah posisi ASEAN dalam perkembangan geopolitik global serta berbagai persoalan yang berkembang di kawasan Asia Tenggara, seperti sengketa dan ketegangan di Laut Tiongkok Selatan. Untuk memperoleh pemahaman lebih dalam mengenai diskusi yang berlangsung dalam forum di atas, peneliti mitra Forum Sinologi Indonesia, Septeven Huang, S.H., M.E.P.P. mewawancarai Dr. Klaus Heinrich Raditio, S.J. Ahli Hubungan Internasional yang mengajar mata kuliah Politik Tiongkok di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini merupakan salah satu tamu undangan non-pemerintah yang hadir dalam acara Shangri-La Dialogue 2026. Wawancara dilaksanakan pada 3 Juni 2026, di Jakarta.

WAWANCARA

Septeven Huang (SH): Pada 2931 Mei 2026, di Hotel Shangri-La Singapura, diadakan dialog perihal pertahanan Asia-Pasifik yang diselenggarakan oleh The International Institute for Strategic Studies (IISS) dan dihadiri oleh menteri pertahanan serta kepala pemerintahan dari berbagai negara, di antaranya Pete Hegseth sebagai Menteri Perang Amerika Serikat serta To Lam selaku Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam sekaligus Presiden Vietnam. Apa signifikansi dari dialog tersebut bagi Indonesia serta isu apa yang menjadi fokus pembahasan pada 2026?

Klaus Heinrich Raditio (KHR): Saya hadir dalam dialog tersebut dari awal sampai akhir. Forum dialog tersebut merupakan tier 1 forum keamanan Asia, dan bukan termasuk ke dalam kategori international relations conference. Dialog tersebut penting karena menjadi platform negara-negara Asia untuk menjelaskan kebijakan pertahanan strategis, termasuk kebijakan militer. Shangri-La Dialogue merupakan platform komunikasi publik perihal arah kebijakan pertahanan negara-negara Asia-Pasifik di masa depan.

SH: Seberapa transparan dialog tersebut dalam memaparkan kebijakan keamanan yang kerap kali mengandung muatan sensitif maupun rahasia negara?

KHR: Terdapat closed-door meeting untuk saling menjelaskan, dalam konteks bilateral, yang dilakukan secara langsung antarnegara yang berkepentingan tanpa melibatkan IISS selaku penyelenggara. Untuk penyampaian kebijakan yang terbuka, disampaikan dalam plenary meeting, di mana delegasi yang diundang akan memaparkan kebijakan masing-masing, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

SH: Bagaimana peran Indonesia dalam dialog tersebut?

KHR: Indonesia selalu diundang dan selalu hadir. Shangri-La Dialogue 2026 ini yang ke-23, pertama kali dimulai pada 2002, dan Prabowo Subianto pernah hadir saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam konteks Asia-Pasifik, memang dialog tersebut tergolong acara yang premier (terpandang). Sehubungan dengan dialog tersebut, difasilitasi juga oleh pemerintah Singapura, dengan bekerja sama dengan  IISS.

SH: Dalam dialog tersebut, apakah memang fokus acara adalah pada aspek kebijakan keamanan secara spesifik, dalam hal fokus pembahasan tidak melibatkan topik secara umum seperti hubungan diplomatik?

KHR: Shangri-La Dialogue memang fokus pada aspek keamanan sehingga yang hadir memang menteri pertahanan saja, dan umumnya tidak dihadiri oleh menteri luar negeri.

SH: Seberapa luas cakupan dari topik pembahasan keamanan?

KHR: Aspek keamanan tidak hanya bicara mengenai adanya ancaman kekuatan militer asing. Dalam salah satu plenary meeting, Australia bahkan membahas kabel bawah laut yang baginya sangat penting bagi keamanan infrastruktur finansial dan tata pemerintahannya.

SH: Apa hasil dari Shangri-La Dialogue tersebut?

KHR: Tidak ada hasil berupa dokumen yang disepakati bersama; tidak ada pernyataan bersama antarnegara partisipan. Umumnya, IISS membagikan analisis tentang postur keamanan yang berjudul Asia-Pacific Regional Security Assessment.

SH: Dong Jun selaku Menteri Pertahanan Tiongkok tidak hadir pada dialog tahun 2026, meskipun Tiongkok serta Laut China Selatan tentunya selalu menjadi topik pembahasan penting. Dalam pandangan Anda, makna apa yang dapat kita ambil dari ketidakhadiran Dong? Bagaimana respons peserta dialog yang lain (di luar Tiongkok) terhadap ketidakhadiran Dong? 

KRH: Beberapa orang memang memiliki kesan bahwa Shangri-La Dialogue berafiliasi dengan Barat sehingga negara-negara yang dekat dengan Amerika Serikat, seperti Jepang dan Australia, merasa nyaman untuk hadir di sana. Sebagai contoh, dialog tersebut pernah menghadirkan Volodymyr Zelenskyy, selaku Presiden Ukraina, yang sedang berperang melawan Rusia sehingga cukup menegaskan kesan bahwa dialog tersebut cenderung dekat dengan kubu Barat. Namun, sebenarnya Shangri-La Dialogue dapat dimanfaatkan oleh semua pihak untuk berkomunikasi dan bertukar pandangan.

Tiongkok pernah menghadirkan menteri pertahanan sebagai delegasi. Akan tetapi, sejak 2025, Menhan Tiongkok tidak hadir. Delegasi dari negara-negara peserta tentunya mengharapkan Menteri Pertahanan Tiongkok hadir. Namun, dapat dipahami mengapa Dong Jun tidak hadir karena akan menjadi sorotan dan target kritik sehubungan dengan adanya sesi tanya jawab secara terbuka. Seharusnya dalam dialog internasional, semua pihak punya kesempatan yang sama untuk memaparkan pandangannya.

SH: Apakah negara-negara yang tidak terafiliasi dengan kubu Barat tersebut memiliki dialog keamanan internasionalnya sendiri?

KHR: Tiongkok menyelenggarakan Beijing Xiangshan Forum, seperti Shangri-La Dialogue versi alternatifnya. Memang dibuat sebagai tandingan. 

SH: Delegasi Tiongkok dipimpin oleh Mayor Jenderal Meng Xiangqing, seorang profesor dari Universitas Pertahanan Nasional Tiongkok, serta Cui Tiankai selaku mantan Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok. Mengingat mereka bukan kepala negara, dalam pandangan Anda, sejauh mana pernyataan yang dikemukakan oleh delegasi Tiongkok tersebut mewakili sikap resmi pemerintah Tiongkok?

KRH: Memang dari segi posisi, tentu tidak setara dengan menteri. Akan tetapi, dari segi materi, tentunya mereka menyampaikan apa yang menjadi pokok garis kebijakan keamanan Tiongkok.

SH: Delegasi Tiongkok cenderung terdiri dari akademisi dan bukan birokrat. Bagaimana pandangan Anda?

KRH: Mayor Jenderal Meng Xiangqing (kepala delegasi Tiongkok)  merupakan seorang militer aktif sehingga tidak dapat dikatakan tidak memiliki andil dalam pengambilan kebijakan keamanan Tiongkok. Peran akademisi di Tiongkok itu memiliki porsi yang cukup besar. Di Standing Committee Politburo Partai Komunis Tiongkok, ada sosok Wang Huning yang merupakan seorang akademisi. Sehingga meskipun Tiongkok mengirim akademisi dan militer aktif sebagai delegasi, apa yang mereka sampaikan tetap patut didengarkan untuk meraba kebijakan keamanan Tiongkok.

SH: Terjadi saling kritik antara delegasi Tiongkok dan delegasi Jepang terkait anggapan Tiongkok bahwa Jepang melakukan remiliterisasi. Bagaimana pandangan Anda terhadap perdebatan itu?

KRH: Jepang selalu memaparkan bahwa kebijakan perkembangan militer mereka transparan, sedangkan Tiongkok dituduh bahwa perkembangan militernya tidak transparan. Seharusnya, di negara mana pun, perkembangan militernya dibarengi dengan peningkatan kerja sama lintas negara untuk mencegah arms race (persaingan militer antarnegara).

SH: Chan Chun Sing, selaku Menteri Pertahanan Singapura, menyatakan bahwa “We are not pro-U.S. or anti-U.S., we are not pro-China or anti-China, we are pro-ASEAN.” Menurut Anda, apa maksud dari pernyataan tersebut? Bagaimana pandangan Anda sendiri terhadap pernyataan itu?

KRH: Pandangan tersebut seharusnya menjadi pandangan semua negara ASEAN. Sayangnya, tidak semua negara ASEAN punya pandangan demikian. ASEAN tidak boleh menjadi tunggangan rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

SH: Kapal perang Belanda De Ruyter dituduh oleh Tiongkok telah masuk ke wilayah Kepulauan Paracel di Laut China Selatan dan menjadi topik pembahasan di forum dialog tersebut. Bagaimana pandangan Anda terhadap kejadian tersebut, khususnya bila dikaitkan dengan rangkaian klaim Tiongkok atas wilayah Laut China Selatan dalam beberapa dasawarsa terakhir?

KHR: Harus dipahami bahwa di Laut Tiongkok Selatan harus terdapat kebebasan navigasi. Perlu dipertanyakan sejauh mana keberatan Tiongkok dapat diterima dari sudut pandang hukum internasional karena setiap kapal harus bisa melewati lautan bebas. Sejauh mana klaim Tiongkok dapat diterima menurut UNCLOS?

SH: Gilberto Teodoro Jr., selaku Menteri Pertahanan Filipina, secara terbuka memiliki sikap konfrontatif terhadap Tiongkok. Bagaimana Anda menempatkan hal tersebut dalam konteks sengketa wilayah Laut China Selatan? Dapatkah pernyataan tersebut dianggap sebagai titik terendah hubungan diplomatik Tiongkok–Filipina?

KHR: Gilberto Teodoro menyebut Tiongkok sebagai sebab masalah di Laut Tiongkok Selatan. Dia menunjukkan bentuk perundingan yang terjadi antara ASEAN dan Tiongkok, berarti menurutnya masalah bukan antara negara-negara ASEAN tetapi ada di Tiongkok. Sikap Gilberto Teodoro tersebut sangat tidak helpful dalam proses finalisasi COC tersebut. Faktanya, justru negara-negara ASEAN yang menghambat kemajuan perundingan COC

Sebagai latar belakang, terdapat suatu dokumen, yakni Declaration of Conduct (DOC), yang lahir pada tahun 2002 dan merupakan hasil negosiasi antara ASEAN dan Tiongkok. DOC merupakan suatu komitmen politik. Setelah DOC, dimandatkan untuk dibuat dan difinalisasi COC pada tahun 2026 ini. COC diharapkan menjadi norma yang lebih kooperatif, konkret, dan mengikat secara hukum. Pada tahun 2023, ketika menjadi ketua ASEAN, Indonesia mendorong agar COC dapat disepakati pada 2026. Namun, tahun ini, ketika kesepakatan sudah hampir tercapai, pernyataan dari Gilberto Teodoro tersebut patut disesalkan karena membahayakan tercapainya kesepakatan COC tersebut.

SH: Pete Hegseth selaku Menteri Peperangan Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Tiongkok menjadi hegemon di wilayah Asia serta mendorong negara-negara Asia untuk meningkatkan anggaran pertahanan masing-masing. Bagaimana pandangan Anda terhadap pernyataan tersebut?

KHR: Setiap negara punya hak untuk memperkuat pertahanan. Ketika suatu negara meningkatkan pertahanan nasional, tentu harus dibarengi dengan peningkatan kerja sama keamanan regional. Pernyataan tersebut tergolong cukup standar, dalam arti tidak terlalu provokatif, dan memang sejalan dengan kebijakan Trump untuk burden sharing negara-negara sekutu/rekan Amerika Serikat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *