Pertemuan “2+2” dalam Diplomasi Pertahanan China—Indonesia

Pada tanggal 13 Agustus 2024, di Jakarta, pemerintah Indonesia dan China melaksanakan pertemuan perdana “2+2” (two plus two) antar pejabat tingkat tinggi (Senior Officials’ Meeting) mereka. Istilah “2+2” merujuk pada pertemuan antara kementerian luar negeri dan pertahanan dari kedua negara. Mewakili pemerintah Indonesia dalam pertemuan tersebut adalah Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Abdul Kadir Jailani, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Brigadir Jenderal Oktaheroe Ramsi.1 Sementara itu, delegasi pemerintah China dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Sun Weidong dan Wakil Direktur Kantor Kerja Sama Militer Internasional, Komisi Militer Sentral, Mayor Jenderal Zhang Baoqun.2 Meski hanya melibatkan pejabat tinggi, pertemuan ini mempersiapkan pertemuan tingkat menteri tahun 2025 yang akan datang.

Walau pertemuan ini bersifat perdana bagi Indonesia dan China, pertemuan sejenis sudah Indonesia lakukan dengan beberapa negara lain yang bukan anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), seperti Australia, Jepang dan Korea Selatan. Dengan Australia, misalnya, pertemuan perdana “2+2” berlangsung di tahun 2012.3 Lantas, mengapa pertemuan “2+2” antara Indonesia dan China baru terjadi pada tahun 2024—2025 ini? Apa kepentingan Indonesia dan China dalam pertemuan ini?

Dominasi Diplomasi Ekonomi

Pastinya, pertemuan “2+2” menandai peningkatan hubungan Indonesia dan China. Hubungan Indonesia—China meningkat pesat sejak kedua negara menjalin Kemitraan Strategis pada tahun 2005 dan Kemitraan Strategis Komprehensif tahun 2013. Peningkatan hubungan diplomatik ini mencakup banyak kerja sama, yang tampak didominasi sektor ekonomi, apalagi sejak berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas China—ASEAN pada bulan Juli 2005.4 Kini, China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan rata-rata nilai perdagangan sekitar 130 milyar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, atau naik dua kali lipat sejak 2014. Begitu pula dengan nilai investasi China di Indonesia yang melonjak dari kisaran 280 juta dolar AS tahun 2013 menjadi 8,6 milyar tahun 2023.5 Bahkan, pada tahun 2023 Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memuji China sebagai negara asal investor kedua terbesar setelah Singapura, atau naik sembilan peringkat hanya dalam satu dasawarsa.

Bila dibandingkan dengan diplomasi ekonomi, diplomasi pertahanan Indonesia—China terkesan melaju lebih lambat. Latihan militer rutin Indonesia—Chinahanya berlangsung pada 2010—2014. Indonesia juga belum pernah mengirim peserta ke latihan militer “Perdamaian dan Persahabatan” (Aman Youyi) yang diprakarsai China bersama Malaysia pada tahun 2014. Bahkan, pada tahun 2023, ketika peserta latihan ini bertambah dengan partisipasi Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam, Indonesia juga belum turut serta.6 Pola sebaliknya terjadi dalam hubungan pertahanan antara Indonesia dan AS. Pada tahun 2022, Indonesia malah memperluas latihan militer antar-angkatan darat dengan AS, Garuda Shield, menjadi latihan multilateral Super Garuda Shield yang turut melibatkan angkatan laut dan udara. Sejak itu, latihan militer Super Garuda Shield terus berlangsung setiap tahun.7

Kerja sama Indonesia—China dalam industri pertahanan dan teknologi militer juga belum berkembang pesat. China dan Indonesia pernah menjajaki produksi bersama rudal anti-kapal dan anti-pesawat, namun upaya ini melambat tanpa sebab yang jelas.8 Justru, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mempererat kerja sama dengan AS dan negara-negara Uni Eropa, seperti Perancis dalam belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista). Di antara kontrak pembelian alutsista Indonesia yang telah Menhan Prabowo setujui adalah pesawat tempur Rafale Perancis dan F-15EX dari AS. Walau Indonesia memiliki pesawat nirawak (drone) dari China, jumlah maupun nilai alutsista Indonesia yang dibeli dari China masih jauh di bawah pembelian dari negara-negara Barat. Patut diduga, Indonesia memiliki keraguan atas mutu alutsista China, atau bahkan khawatir bergantung pada pasokan alutsista dari Beijing.

Arti Penting Pertemuan “2+2”

Bila selama ini diplomasi ekonomi mendapat prioritas sehingga bisa mendominasi hubungan bilateral, sudah saatnya diplomasi pertahanan mendapat perhatian serupa. Lain halnya dengan diplomasi pertahanan, diplomasi ekonomi Indonesia—China telah mendapat perhatian khusus dan perlakuan istimewa melalui Mekanisme Kerja Sama Dialog Tingkat Tinggi (HDCM) yang berlangsung sejak 2023.9 HDCM sendiri berada di bawah naungan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) serta Kemlu RI. Ajang pertemuan “2+2” pada tahun 2025 bisa menjadi “versi pertahanan” dari HDCM. Pertemuan ini bisa melanjutkan Dialog Pertahanan dan Keamanan ASEAN—China yang tertunda sejak 2010 setelah sebelumnya bertemu sebanyak tiga kali.10 Bedanya, pertemuan “2+2” hanya melibatkan Indonesia dan China, bukan seluruh ASEAN.

Dari pemberitaan media sejauh ini, pertemuan “2+2” lebih mengarah pada peningkatan rasa saling percaya antara China dan Indonesia. Kemlu RI menyampaikan bahwa pertemuan “menyepakati kerja sama pengembangan kapasitas bagi diplomat, dan latihan bersama antara angkatan bersenjata kedua negara”, di samping “menjaga keamanan dan kestabilan di kawasan.”11 Menariknya, pertemuan juga membicarakan persoalan sensitif, seperti Taiwan dan Laut China Selatan. Tentang persoalan ini, pihak Indonesia “menegaskan kembali kepatuhannya yang teguh terhadap prinsip ‘Satu China,’ dan menganjurkan pengelolaan perbedaan dengan baik melalui negosiasi damai dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.”12

Keamanan Militer

Apakah dengan pertemuan “2+2” China akan menjadi mitra terdekat Indonesia dalam diplomasi pertahanan? Belum tentu. Sebagaimana yang penulis sampaikan bulan Juni lalu, diplomasi pertahanan cenderung bertujuan meningkatkan keamanan militer Indonesia dari, dan bukan dengan, China sebagai wujud kewaspadaan politik pemerintahan Prabowo Subianto mendatang.13 Artinya, diplomasi pertahanan bertujuan mencegah kemungkinan salah paham antara Jakarta—Beijing yang bisa mengganggu prioritas Indonesia dalam diplomasi ekonomi dengan China. Sebagai contoh, China mengakui sebagian wilayah perairan Indonesia di Laut China Selatan sebagai miliknya.14 Melalui saluran diplomasi pertahanan dengan Beijing, pemerintah Indonesia berharap bisa mengurangi gesekan atau ketegangan di laut dengan aparat China, seperti penjaga pantai (coastguard), yang wewenangnya berada di bawah Kementerian Pertahanan China.

Sesuai dengan pernyataan Kementerian Pertahanan China bulan April lalu, salah satu tujuan pembentukan “2+2” adalah memperkuat hubungan militer-ke-militer (mil-to-mil) kedua negara.15 Penguatan hubungan bisa melalui pertukaran perwira pelajar, latihan bersama, serta kerja sama multilateral yang lebih luas. Apalagi, Beijing pernah membantu pencarian kapal selam TNI-AL KRI Nanggala yang tenggelam di Laut Bali pada April 2021. Pengalaman ini mendorong Beijing untuk mengusulkan latihan pertolongan dan keselamatan kapal selam (submarine rescue and safety exercise) bersama negara-negara lain di kawasan, terutama dengan Indonesia.16

Namun demikian, nilai diplomasi pertahanan Indonesia—China berbeda halnya dari diplomasi ekonomi. Walau Indonesia merupakan tujuan investasi China terbesar di Asia Tenggara, Indonesia belum tentu memiliki nilai yang sama bagi Beijing dari sisi pertahanan.17 Kenyataannya, negara-negara ASEAN lain tampak lebih dekat dalam hubungan militer dengan Beijing. Dari semua negara ASEAN tersebut, Kamboja tampak yang paling menonjol. Pada bulan Mei 2024, kedua negara melaksanakan latihan militer Naga Emas yang melibatkan ribuan prajurit serta tiga kapal perang China.18 Bahkan, Beijing turut membangun pangkalan militer Kamboja yang diduga dapat menunjang kegiatan militer China di kawasan Asia Tenggara.

Bisa saja pertemuan “2+2” tingkat menteri pada 2025 nanti menyepakati perluasan kerja sama militer Indonesia—China sebagaimana negara-negara ASEAN lain tersebut. Indonesia dan China akan lebih sering melaksanakan latihan militer, saling berkunjung dengan kapal perang, atau bertukar perwira pelajar. Akan tetapi, perluasan hubungan bukan berarti pendalaman. Kecil kemungkinannya bahwa latihan, kunjungan, dan pertukaran semacam ini akan mengungguli atau bahkan menandingi bobot kerja sama militer Indonesia dengan para mitra yang sudah terjalin selama ini, khususnya dengan AS.19

Referensi

  1. Kementerian Luar Negeri RI, “Indonesia dan RRT Perkuat Kemitraan Strategis Komprehensif melalui penyelenggaraan Perdana Dialog Bersama SOM 2+2,” 13 Agustus 2024, tersedia secara daring pada https://kemlu.go.id/portal/id/read/6146/berita/indonesia-and-china-to-strengthen-strategic-comprehensive-partnership-through-the-inaugural-22-som (diakses pada 19 Agustus 2024)
  2. Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia, “Tiongkok dan Indonesia Gelar Perdana Dialog Bersama Tingkat Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan,” 16 Agustus 2024, tersedia secara daring pada http://id.china-embassy.gov.cn/indo/zgyyn/202408/t20240817_11475161.htm (diakses pada 19 Agustus 2024)
  3. Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, “Pertemuan Bersejarah Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Australia-Indonesia (“2+2”),” 14 Maret 2012, tersedia secara daring pada https://indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/SMB12_001.html (diakses pada 20 Agustus 2024)
  4. Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Indonesia dan RRT Sepakati Kemitraan Strategis Komprehensif,” 3 Oktober 2013, tersedia secara daring pada https://www.setneg.go.id/baca/index/indonesia_dan_rrt_sepakati_kemitraan_strategis_komprehensif (diakses pada 20 Agustus 2024)
  5. Kristantyo Wisnubroto, “Indonesia dan Tiongkok Perkuat Kerja Sama dan Investasi, Apa Saja?,” Indonesia.go.id, 23 Oktober 2023, tersedia secara daring pada https://indonesia.go.id/kategori/editorial/7686/indonesia-dan-tiongkok-perkuat-kerja-sama-dan-investasi-apa-saja?lang=1#:~:text=%E2%80%9CPertumbuhan%20investasi%20dari%20Tiongkok%20ke,signifikan%2C%E2%80%9D%20jelas%20Menteri%20BUMN (diakses pada 20 Agustus 2024)
  6. Rahman Yaacob dan Jack Sato, “Southeast Asia’s preferred military exercise partner,” The Interpreter, 29 Februari 2024, tersedia secara daring pada https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/southeast-asia-s-preferred-military-exercise-partner (diakses pada 20 Agustus 2024)
  7. Suparno, “TNI Gelar Latihan Bersama Super Garuda Shield dengan 10 Negara,” Detik.com, 26 Agustus 2024, tersedia secara daring pada https://www.detik.com/jatim/berita/d-7509004/tni-gelar-latihan-bersama-super-garuda-shield-dengan-10-negara (diakses pada 21 Agustus 2024)
  8. Evan Laksmana, “The Underwhelming Defence Ties between Indonesia and China,” Institute for International and Strategic Studies, https://www.iiss.org/en/online-analysis/online-analysis/2024/05/the-underwhelming-defence-ties-between-indonesia-and-china/
  9. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, “Buka Pertemuan Ke-4 HDCM, Menko Luhut Tegaskan Kerja Sama RI – RRT Ke Depan Semakin Kuat,” 19 April 2024, tersedia secara daring pada https://maritim.go.id/detail/buka-pertemuan-ke-4-hdcm-menko-luhut-tegaskan-kerja-sama-ri-rrt-ke-depan-semakin-kuat (diakses pada 21 Agustus 2024)
  10. Embassy of the People’s Republic of China in the Republic of the Philippines, “China, ASEAN to Hold Defense and Security Dialogue,” 28 Maret 2010, tersedia secara daring pada http://ph.china-embassy.gov.cn/eng/zt/ASEAN/201201/t20120112_1334683.htm (diakses pada 21 Agustus 2024)
  11. Kementerian Luar Negeri RI, “Indonesia dan RRT Perkuat Kemitraan Strategis Komprehensif melalui penyelenggaraan Perdana Dialog Bersama SOM 2+2,” 13 Agustus 2024, tersedia secara daring pada https://kemlu.go.id/portal/id/read/6146/berita/indonesia-and-china-to-strengthen-strategic-comprehensive-partnership-through-the-inaugural-22-som (diakses pada 21 Agustus 2024)
  12. Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia, “Tiongkok dan Indonesia Gelar Perdana Dialog Bersama Tingkat Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan,” 16 Agustus 2024, tersedia secara daring pada http://id.china-embassy.gov.cn/indo/zgyyn/202408/t20240817_11475161.htm (diakses pada 21 Agustus 2024)
  13. Ristian Atriandi Supriyanto, “Arti Penting Pertemuan Prabowo—Xi bagi Keamanan Indonesia,” Forum Sinologi Indonesia, 6 Juni 2024, tersedia secara daring padahttps://forumsinologi.id/arti-penting-pertemuan-prabowo-xi-bagi-keamanan-indonesia/ (diakses pada 21 Agustus 2024)
  14. [1] Ristian Atriandi Supriyanto, “Adu Siasat Pertahanan ‘Rantai Kepulauan’ China dan Keamanan Indonesia di Laut China Selatan,” Forum Sinologi Indonesia, 11 Maret 2024, tersedia secara daring padahttps://forumsinologi.id/adu-siasat-pertahanan-rantai-kepulauan-china-dan-keamanan-indonesia-di-laut-china-selatan/ (diakses pada 21 Agustus 2024)
  15. Huang Panyue, “Defense Ministry Spokesperson’s Remarks on Recent Media Queries Concerning the Military,” China Military, 15 April 2024, tersedia secara daring pada http://eng.chinamil.com.cn/VOICES/16300928.html (diakses pada 22 Agustus 2024)
  16. Simak menit 21:28 dari paparan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut China, Laksamana Madya Wang Houbin, “7th IMSC Session 1: Preserving Peace and Stability in the Post-Pandemic Maritime Commons,” RSIS NTU, 13 Agustus 2021. https://www.youtube.com/watch?v=W1eB4y6kbDo.
  17. Cissy Zhou, “Chinese investment in Asia rose 37% in 2023, led by Indonesia,” Asia Nikkei, 7 Maret 2024, tersedia secara daring pada https://asia.nikkei.com/Spotlight/Belt-and-Road/Chinese-investment-in-Asia-rose-37-in-2023-led-by-Indonesia (diakses pada 22 Agustus 2024)
  18. VOA Indonesia, “China dan Kamboja Gelar Latihan Militer Gabungan,” 13 Mei 2024, tersedia secara daring pada https://www.voaindonesia.com/a/china-dan-kamboja-gelar-latihan-militer-gabungan/7609177.html (diakses pada 22 Agustus 2024)
  19. Rahman Yaacob dan Jack Sato, “Southeast Asia’s preferred military exercise partner,” The Interpreter, 29 February 2024, https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/southeast-asia-s-preferred-military-exercise-partner#:~:text=The%20US%20remains%20the%20partner,to%20staging%20joint%20military%20exercises (diakses pada 22 Agustus 2024)

Ristian Atriandi Supriyanto adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, dan peneliti mitra (visiting research fellow) pada Forum Sinologi Indonesia. Ia saat ini sedang menyelesaikan disertasi doktor pada the Strategic and Defence Studies Centre, Australian National University, Canberra.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *