Ringkasan Utama
Generasi muda etnis Tionghoa di Indonesia yang terpapar kebudayaan asing cenderung menanggalkan kebudayaan khas Tionghoa Indonesia yang lahir di Indonesia. Atas dasar itulah, tulisan ini menyoroti pembentukan identitas dan kebudayaan khas masyarakat Tionghoa Indonesia melalui proses panjang adaptasi, akulturasi, dan kawin campur dengan berbagai etnis lokal di seluruh Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, serta dari Jawa hingga Bali, interaksi lintas budaya ini melahirkan tradisi yang berakar kuat pada nilai-nilai keindonesiaan. Oleh karena itu, penulis berpandangan bahwa Tionghoa Indonesia seyogianya melestarikan dan menghidupi kebudayaan Tionghoa Indonesia yang juga merupakan kebudayaan asli Indonesia.
Di tengah maraknya serbuan budaya asing, termasuk budaya Tiongkok Daratan, penting bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk tetap mempertahankan budaya Tionghoa Indonesia yang memiliki ciri keindonesiaan tersendiri.[1]
Hal ini karena bagi orang-orang Tionghoa Indonesia, menjadi Tionghoa tidak berarti menjadi orang Tiongkok,[ii] sebagaimana menjadi orang Indonesia tidak berarti menanggalkan identitas ketionghoaan. Ketionghoaan masyarakat Tionghoa di Indonesia seyogianya tidak bertentangan dengan identitasnya sebagai warga negara Indonesia yang telah lahir dan hidup di bumi Indonesia selama tidak terhitung lamanya. Masyarakat Tionghoa di Indonesia telah melahirkan kebudayaan Tionghoa Indonesia yang khas dan sangat berbeda dengan kebudayaan yang kini berkembang di daratan Tiongkok. Kebudayaan khas Tionghoa Indonesia ini lahir dari pengalaman sejarah yang berbeda dengan orang Tiongkok, yang mencakup proses adaptasi dengan kebudayaan masyarakat setempat. Proses ini memengaruhi kebudayaan serta pola pikir masyarakat Tionghoa di Indonesia sehingga menjadi Indonesia-sentris.
Kebudayaan khas Tionghoa Indonesia, yang kental diwarnai oleh kebudayaan lokal dari daerah-daerah di mana masyarakat Tionghoa berada, dapat dijumpai dari ujung barat sampai timur, serta dari utara sampai selatan wilayah Indonesia yang luas.[i] Di berbagai wilayah itu, masyarakat Tionghoa telah beradaptasi dengan masyarakat lokal hingga tercipta kebudayaan yang khas. Di Aceh, hadir masyarakat Tionghoa setempat yang tetap memegang teguh kebudayaannya tanpa bertentangan dengan syariat Islam yang menjadi ciri khas Aceh sebagai Serambi Mekah.[ii] Di sana lahir tokoh Tionghoa seperti Yap Thiam Hien, seorang pengacara legendaris yang cinta Indonesia hingga rela mengabdikan hidupnya bagi perjuangan keadilan dan pembangunan tatanan hukum yang lebih adil di Indonesia.[iii] Di Papua, hadir pula tokoh Tionghoa seperti Thung Tjing Ek (Jakub Thung) yang berjuang di jalur fisik dengan mengangkat senjata demi kemerdekaan Republik Indonesia bersama para tokoh Papua lainnya, hingga beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Serui.[iv]
Tionghoa di Papua telah banyak melakukan kawin campur dengan masyarakat setempat hingga secara fisik sudah menyerupai Orang Asli Papua.[i] Demikian pula di Sulawesi Utara[ii] maupun di Nusa Tenggara Timur.[iii] Masyarakat Tionghoa di daerah-daerah itu telah melangsungkan proses kawin campur selama beberapa generasi hingga menganut agama mayoritas setempat, tanpa melupakan kebudayaan dan festival kultural Tionghoa. Sementara di daerah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur, masyarakat Tionghoa dikenal sangat fasih dalam berbahasa Jawa hingga turut mengadopsi pola pikir serta kebudayaan Jawa dalam keseharian mereka.[iv] Dalam tataran paling personal, sangat umum ditemui fenomena orang tua Tionghoa di Jawa yang mendidik anaknya dengan berbahasa Jawa serta dengan menggunakan perumpamaan dan filosofi Jawa. Oleh sebab itu, orang-orang yang secara biologis dikategorikan sebagai Tionghoa namun dalam tutur kata, pemikiran, dan kebudayaan, telah menjadi Jawa sangat jamak ditemui. Sosok seperti Go Tik Swan atau Kanjeng Raden Tumenggung Hardjonagoro, yang merupakan seorang budayawan ahli batik Jawa keturunan Tionghoa, kerap disebut “lebih Jawa dari orang Jawa.”[v] Ia adalah salah satu dari contoh-contoh yang tak terhitung banyaknya.[vi]
Kerap kali, interaksi etnis Tionghoa dengan masyarakat setempat akan melahirkan suatu kelompok masyarakat yang baru. Seperti di Kota Tangerang dan sekitarnya, kawin campur antara masyarakat Cina Benteng dan Cina Udik dengan masyarakat setempat yang berlatar belakang etnis lain telah berlangsung selama ratusan tahun.[i] Proses ini melahirkan suatu kebudayaan yang khas dan berbeda dengan masyarakat Tionghoa di mana pun. Baik masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang maupun Cina Udik di Kabupaten Tangerang, secara fisik sudah tidak dapat dibedakan dari penduduk lokal setempat. Namun, banyak di antara mereka yang tetap memiliki marga Tionghoa, memeluk kepercayaan tradisional Tionghoa, termasuk Tridharma, bahkan masih mempertahankan kebudayaan Tionghoa yang khas dan hanya ada di daerah Tangerang. Sementara menurut Thung Ju Lan, kelompok Tionghoa yang telah hadir lebih awal di daerah Banten telah mengadopsi agama Islam dan berbaur dengan masyarakat setempat sehingga keberadaannya tak dapat ditelusuri kembali.[ii]
Di daerah lainnya, seperti Palembang, Sumatera Selatan, dan di Jakarta, budaya Tionghoa bahkan menjadi salah satu pembentuk kebudayaan daerah. Di Palembang, identitas Wong Palembang, yang merupakan etnis asli kota tersebut, terbentuk sebagai masyarakat yang khas melalui percampuran antara kebudayaan Jawa, Melayu, dan Tionghoa. Fenomena kawin campur terjadi pula di Palembang, mulai dari tingkat masyarakat hingga tingkat keluarga kerajaan.[iii] Tak mengherankan bila pengaruh Tionghoa terasa di kota tersebut, baik dalam arsitektur hingga kuliner. Pempek, sebuah makanan khas kota itu, ditengarai merupakan sejenis makanan yang dikembangkan oleh orang-orang Tionghoa. Pengaruh kebudayaan Tionghoa juga sangat terasa mewarnai kebudayaan masyarakat Betawi.
Pola hubungan saling memengaruhi di antara etnis Tionghoa dengan masyarakat setempat terjadi pula di Kalimantan Barat, di mana kawin campur antara orang Tionghoa dengan orang Dayak ataupun Melayu merupakan hal yang sangat lumrah. Kebudayaan Hakka Kalimantan Barat memiliki banyak ciri khas, baik dari segi penggunaan bahasa hingga kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda dengan kebudayaan Hakka di Bangka Belitung[i] maupun di tempat asal leluhurnya di Meizhou, Tiongkok.[ii] Demikian pula, tak sedikit orang Dayak di Kalimantan Barat memiliki darah Tionghoa sebagai hasil dari kawin campur yang telah terjadi selama beberapa generasi. Pola serupa juga terjadi di Bali. Kepercayaan masyarakat setempat secara eksplisit mengakui bahwa orang Tionghoa ialah saudara tua orang Bali.[iii] Bahkan dalam ritual persembayangan, orang Bali kerap menggunakan koin kepeng mata uang Tiongkok pada era Dinasti Ming atau Qing.[iv] Sebaliknya, orang Tionghoa di Bali kerap kali memiliki nama Bali seperti Nyoman, Putu, Gede dan sebagainya, serta fasih dalam berbahasa Bali.[v] Sebagian dari meraka bahkan turut bersembahyang di pura bersama saudara-saudara mereka yang berlatarbelakang etnis Bali. Sebaliknya di kelenteng-kelenteng di Bali, sangat mudah untuk menemukan orang etnis Bali turut ikut bersembayang bersama orang Tionghoa di kelenteng.[vi]
Uraian di atas memperlihatkan bahwa, ketionghoaan di Indonesia bukanlah sebuah kebudayaan asing yang sekadar dicangkok dalam tatanan masyarakat Indonesia, melainkan sebuah kebudayaan yang telah menjadi kebudayaan asli Indonesia. Proses menjadi tersebut berlangsung melalui perpaduan dengan kebudayaan masyarakat setempat yang tertanam di Bumi Indonesia dengan segala ciri khas dan kekhususan yang berakar di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan globalisasi, yang antara lain “menyerang” Indonesia dalam bentuk masuknya kebudayaan kosmopolitan, pengaruh budaya populer asal Korea Selatan, dan bahkan derasnya arus budaya Tiongkok Daratan seiring dengan fenomena kebangkitan Tiongkok, generasi penerus Tionghoa Indonesia diharapkan tetap mempertahankan kebudayaan khas Tionghoa Indonesia itu dan tidak larut pada pengaruh kebudayaan asing, baik yang berasal dari Barat maupun Asia Timur, termasuk kebudayaan Tiongkok Daratan. Karena bagaimana pun juga, Tionghoa Indonesia adalah Indonesia.
Septeven Huang, peneliti mitra Forum Sinologi Indonesia dan mahasiswa Program Pascasarjana Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI).
Referensi:
- Pandangan peneliti senior BRIN Thung Ju Lan seperti diberitakan dalam Yohanes Enggar Harususilo, “Tionghoa, ‘Chindo’. dan Membingkai Indonesia.” Kompas, 1 Maret 2026, tersedia daring https://www.kompas.com/edu/read/2026/03/01/215136871/tionghoa-chindo-dan-membingkai-indonesia?page=all#page2 (diakses 1 Mei 2026)
- Leo Suryadinata, Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia, (Singapore: ISEAS, 2008).
- Iwan Santosa, Peranakan Tionghoa di Nusantara: Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012).
- Abdul Rani Usman, Etnis Cina perantauan di Aceh, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009).
- Leo Suryadinata, Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, (Singapura: ISEAS, 2015), hlm. 395.
- Bernarda Meterai, “Kontestasi Nasionalisme Indonesia Pada Tiga Daerah Penyemaian di Papua,” Jurnal Masyarakat Indonesia, Volume 48 No. 1 (2022), hlm. 59–74.
- Katharina Janur, “Prancis atau Ciko, Julukan Warga Tionghoa di Papua,” Liputan 6, 16 Februari 2018, tersedia daring https://www.liputan6.com/regional/read/3291960/prancis-atau-ciko-julukan-warga-tionghoa-di-papua (diakses 1 Mei 2026)
- Hendri Gunawan, Yok Tjae & Chung Hwa: Menelusuri Jejak-Jejak Komunitas Tionghoa di Manado, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2014).
- Agni Malagina dan Feri Latief, “Berburu ‘Anak Naga’ di Tanah Timor”, National Geographic Traveler, Vol. 6, No. 8, (2015), hlm. 92-103.
- Rustopo, Menjadi Jawa: Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta 1895-1998, (Yogyakarta: Penerbit Ombak dan Yayasan Nabil, 2007).
- Rustopo, Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2008).
- Suryadinata, Prominent Indonesian Chinese, hlm. 58.
- Santosa, Peranakan Tionghoa
- Sujoni, “Pengaruh Asing Dinilai Menguat, Komunitas Tionghoa Imbau Kedepankan Keindonesiaan,” Sindonews, 2 Maret 2026, tersedia daring https://nasional.sindonews.com/read/1682643/15/pengaruh-asing-dinilai-menguat-komunitas-tionghoa-imbau-kedepankan-keindonesiaan-1772460223/10 (diakses 1 Mei 2026)
- Huddy Husin, “Adaptasi Etnis Tionghoa Palembang Dalam Mempertahankan Eksistensi 1905-1950”, Disertasi Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Penghetahuan Budaya, Universitas Indonesia, (2023).
- Abdullah Idi, Asimilasi Cina-Melayu di Bangka, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009).
- Ardian Purwoseputro, Museum Hakka Indonesia/Indonesian Hakka Museum, (Jakarta: Museum Hakka Indonesia, 2015).
- BBC News Indonesia, “’Balichinesia’: Melihat akulturasi budaya dalam identitas komunitas Cina Bali,” 16 Februari 2018, tersedia daring https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43069361 (diakses 1 Mei 2026)
- Dinas Kebudayaaan Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Uang Kepeng di Bali,” tersedia daring https://disbud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/52-uang-kepeng-di-bali (diakses 1 Mei 2026)
- Ni Luh Sutjiati Beratha, Wayan Ardika, I Nyoman Dhana, dan Made Jiwa Atmaja, Dari Tatapan Mata ke Pelaminan, Sampai di Desa Pakraman: Studi Tentang Hubungan Orang Bali Dengan Orang Cina di Bali, (Denpasar: Udayana University Press, 2010).
- Dewi Divianta, “Umat Hindu dan Budha Sembahyang Bersama di Kelenteng Ini,” Liputan 6, 5 Februari 2014, tersedia daring https://www.liputan6.com/regional/read/2429497/umat-hindu-dan-budha-sembahyang-bersama-di-kelenteng-ini (diakses 1 Mei 2026); I Made Bagus Andi Purnomo, “Masyarakat Lintas Agama Ramai Kunjungi Kelenteng Buleleng,” ANTARA Bali, 8 Februari 2016, tersedia daring https://bali.antaranews.com/berita/85843/masyarakat-lintas-agama-ramai-kunjungi-kelenteng-buleleng (diakses 1 Mei 2026).

Leave a Reply