Pada 14–17 Januari 2024, Perdana Menteri China Li Qiang menghadiri pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, sekaligus melakukan kunjungan resmi ke Swiss dan Irlandia.1 Lawatan tersebut dilakukan untuk memenuhi undangan pendiri dan direktur eksekutif WEF Klaus Schwab, serta pemimpin Swiss dan Irlandia.2 Satu bulan berselang, pada 16–21 Februari 2024, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga bertolak ke Eropa, di mana ia menghadiri Konferensi Keamanan Munich ke-60, dan melakukan kunjungan resmi ke Spanyol dan Perancis.3 Yang terakhir, pada 5 Mei 2024, Presiden China Xi Jinping sendiri mengunjungi Perancis, Hungaria, dan Serbia atas undangan resmi pemimpin tiga negara tersebut.4 Cukup tingginya frekuensi kunjungan pemimpin tingkat tinggi China ke Eropa sedikit banyak memperlihatkan antusiasme raksasa Asia ini untuk mempererat hubungannya dengan negara-negara Eropa. Apa yang melatarbelakangi antusiame itu? Bagaimana respons Eropa, terhadap langkah tersebut? Apakah upaya China mempererat hubungannya dengan negara-negara Eropa dapat dinilai berhasil? Artikel singkat ini akan mengulas pertanyaan-pertanyaan di atas.
Motif di balik upaya para pemimpin China untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara Eropa sebenarnya tak terlalu sulit untuk dipahami. Motif ini bahkan didiskusikan di berbagai media China ketika media-media tersebut membahas tingginya frekuensi pemimpin mereka yang mengunjungi Eropa pada paruh pertama tahun 2024. Misalnya, sebuah tajuk rencana yang muncul pada awal Mei 2024 di sebuah media dalam jaringan (daring) milik pemerintah China, Renmin Wang (人民网), mengemukakan bahwa Eropa secara jelas memiliki arti penting bagi diplomasi China “Era Baru” Xi Jinping.5 Menurut tajuk rencana itu, fakta bahwa Eropa menjadi tujuan kunjungan luar negeri pertama Xi Jinping di tahun 2024 memperlihatkan bahwa Xi sungguh-sungguh memaknai pernyataan yang ia sampaikan dalam kunjungan sebelumnya ke Eropa pada 2018, yaitu bahwa, “Eropa adalah kutub penting dalam dunia multipolar dan salah satu mitra terpenting China.”6 Arti penting Eropa bagi kebijakan luar negeri China pada era sekarang ini terlihat pula dari sikap dan langkah yang diambil oleh para pembantu utama Xi Jinping. Misalnya, Perdana Menteri Li Qiang menjadikan Eropa sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya bukan hanya pada 2023, segera setelah ia mengemban jabatan sebagai orang nomor dua di China, tetapi juga pada 2024. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah opini yang dipublikasikan oleh kantor berita nasional China, Xinhua, kunjungan Li di atas seolah menegaskan bahwa China melihat Eropa sebagai kekuatan strategis di arena internasional dan oleh karenanya menganggap penting hubungannya dengan benua tersebut.7 Pilihan Li untuk kembali mengunjungi Eropa sebagai lawatan luar negeri pertamanya di tahun 2024 ini bukan hanya menandai keberlanjutan komunikasi tingkat tinggi antara China dan Eropa, tetapi juga memperlihatkan konsistensi cara pandang China yang menjadikan Eropa sebagai salah satu mitra strategisnya di tengah tantangan geopolitik global yang semakin rumit.8
Namun, bila China jelas memiliki motif yang kuat untuk merangkul negara-negara Eropa, apakah Eropa menyambut dengan positif keinginan China di atas? Jawaban terhadap pertanyaan ini tampaknya sedikit banyak terkait dengan kecenderungan untuk bersikap hati-hati dan menaruh curiga terhadap China, yang dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di kalangan publik Eropa. Sikap publik ini tampaknya berpengaruh, setidaknya hingga tataran tertentu, pada kebijakan luar negeri sejumlah negara di kawasan tersebut. Jerman, sebagai contoh, mempertimbangakan wacana “decoupling” (mengurangi ketergantungan berlebih) terhadap China dalam menyusun cetak biru kebijakan hubungan bilateral antara Jerman dan China.9 Italia secara resmi menarik diri dari kerangka kerja sama pembangunan dan pembiayaan infrastruktur global China Belt and Road Initiative (BRI) pada tahun 2023.10 Uni Eropa (UE) sebagai blok perekonomian penting di Eropa juga menganggap China sebagai pesaing, bahkan rival, meskipun pada saat yang bersamaan tetap berusaha berinteraksi dengan China sebagai mitra kerja sama. Hubungan yang kompleks tersebut disebabkan oleh meningkatnya ganjalan dalam interaksi kedua pihak, yang disebabkan oleh sikap kurang terbuka China terhadap dunia luar, sikap represif China di dalam negeri, serta sikap asertif negara itu, yang antara lain terwujud dalam bentuk pemaksaan ekonomi, tindakan memboikot barang-barang Eropa, dan pemberlakuan kontrol ekspor terhadap bahan mentah penting.11 Perubahan sikap China tersebut pada gilirannya menentukan bagaimana kebijakan UE juga perlu diubah.12 Keseriusan UE untuk mengimplementasikan kebijakan yang lebih tegas terhadap China dapat dilihat dari sejumlah penyelidikan terkait subsidi pemerintah yang dilakukan terhadap produk-produk China di pasar UE, misalnya produk besi dan baja, serta produk teknologi ramah lingkungan, seperti turbin angin, panel surya, dan kendaraan listrik.13
Para pemimpin China tampaknya sangat sadar terhadap persepsi negara-negara Eropa yang cenderung negatif terhadap negara mereka, serta keseriusan aksi UE yang dapat mengganggu kepentingan bisnis dan perdagangan China. Oleh karenanya, selama lawatan di Eropa, mereka selalu menyampaikan kontra narasi terhadap persepsi negatif terkait China yang mengemuka. Misalnya, dalam pidatonya pada sidang tahunan WEF 2024, Perdana Menteri Li Qiang menegaskan, “tidak peduli bagaimana situasi dunia berubah, China akan mempertahankan kebijakan dasar nasionalnya, yaitu membuka diri terhadap dunia luar, dan pintu untuk membuka diri itu akan semakin terbuka lebar. Memilih pasar China bukanlah sebuah risiko, namun sebuah peluang.”14 Pernyataan dalam pidato Li Qiang tersebut dapat diduga dialamatkan kepada sejumlah negara Eropa dan UE yang tengah menggulirkan wacana “decoupling” dan “de-risking,”15 sebagai strategi masa depan dalam berhubungan dengan China.16 Penegasan serupa juga dilakukan oleh Menteri Wang Yi dalam jumpa pers dengan wartawan China setelah kunjungan resminya ke Eropa. Pada kesempatan itu, ia menyatakan: “semua lapisan masyarakat di Eropa jelas-jelas menentang “decoupling” (tuōgōu 脱钩), dan orang-orang yang berwawasan luas sudah mulai merenungkan risiko yang ditimbulkan oleh “de-risking” (qù fēngxiǎn 去风险). Saling ketergantungan yang didasarkan pada rasa saling percaya akan menguntungkan semua pihak dan mempercepat pembangunan bersama.”17
Upaya China melakukan kontra narasi terlihat juga dari pemilihan dua negara terakhir yang di yang dikunjungi Presiden Xi Jinping dalam rangkaian lawatannya ke Eropa. Kedua negara tersebut, Hungaria (anggota UE) dan Serbia (kandidat anggota UE), sama-sama menikmati fasilitas pembangunan dan pembiayaan infrastruktur dari China melalui program BRI. Salah satu proyek besar dalam kerangka kerja sama tersebut adalah modernisasi jalur kereta api antara ibu kota kedua negara, Budapest–Beograd. Proyek tersebut juga menghubungkan kedua ibu kota itu dengan pelabuhan Piraeus di Yunani, yang dikuasai perusahaan China, sebagai titik masuk barang-barang China ke Eropa Tengah dan Timur.18 Oleh karenanya, keputusan Xi mengunjungi kedua negara tersebut dapat dimaknai sebagai upaya menangkis anggapan sementara kalangan di Eropa yang pesimistis terhadap manfaat keanggotan BRI bagi negara-negara kawasan itu.
Apakah upaya para pemimpin China tersebut dalam memperbaiki citra negaranya di mata publik dan elit politik Eropa dapat dikatakan berhasil? Bagi media China, tentu kunjungan para pemimpin itu patut diliput sebagai suatu keberhasilan. Namun, media dan para pengamat internasional menyampaikan analisis yang berbeda dalam menilai sepak terjang para pemimpin China tersebut. Misalnya, dalam rangka penguatan kerja sama di bidang energi hijau dengan Hungaria, perusahaan China berlomba-lomba membangun pabrik mobil listrik di Hungaria. Sejumlah pengamat menilai, itu adalah strategi China untuk mengelak dari aturan UE, jika nantinya penyelidikan anti dumping UE yang saat ini sedang berlangsung berakhir dengan pengenaan tarif impor yang tinggi terhadap produk-produk China.19 Kasus lain yang banyak dikritisi adalah kerja sama keamanan China dengan Serbia dan Hungaria yang memberi ruang lebih luas bagi aparat penegak hukum China untuk membantu partner mereka di kedua negara tersebut. Kerja sama ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan para petugas tersebut digunakan sebagai perpanjangan tangan dari negara satu partai yang dipimpin Xi untuk melakukan kontrol terhadap komunitas diaspora China di sana.20
Para pemimpin China tampaknya perlu memperhatikan wacana publik dan para peneliti setempat, yang sering kali diwarnai dengan pandangan kritis, dalam menjalankan diplomasi dengan Eropa. Memang pada tataran elit, diplomasi China seolah-olah berjalan mulus. Tingginya frekuensi kunjungan balasan pemimpin Eropa ke China pada periode yang sama seolah meneguhkan anggapan mulusnya upaya China merangkul negara-negara di kawasan Eropa. Akan tetapi, hal penting yang patut diingat China adalah karakteristik negara-negara Eropa yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Dengan demikian, aktor-aktor non-negara, misalnya pers, akademisi, dan masyarakat sipil, juga turut berperan penting dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Dengan demikian, China menghadapi sebuah tugas penting dan berat, yaitu mengambil hati publik Eropa demi memperlancar diplomasinya di sana.
Referensi
- Seperti disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam jumpa pers rutin, 中华人民共和国外交部, “2024年1月11日外交部发言人毛宁主持例行记者会,” 11 Januari 2024, https://www.mfa.gov.cn/fyrbt_673021/202401/t20240111_11222239.shtml (diakses pada 23 Mei 2024)
- 人民网, “李强抵达苏黎世对瑞士进行正式访问,” 15 Januari 2024, http://politics.people.com.cn/n1/2024/0115/c1024-40158676.html (diakses pada 23 Mei 2024)
- 中华人民共和国外交部, “王毅在出席慕尼黑安全会议并访问西班牙、法国后接受中国媒体采访,” 21 Februari 2024, https://www.mfa.gov.cn/wjbzhd/202402/t20240221_11248118.shtml (diakses pada 23 Mei 2024)
- 中华人民共和国外交部, “习近平离京对法国、塞尔维亚和匈牙利进行国事访问,” 5 Mei 2024, https://www.mfa.gov.cn/web/wjdt_674879/gjldrhd_674881/202405/t20240505_11292953.shtml (diakses pada 23 Mei 2024)
- 人民网, “习近平开启今年首访,一次值得期待的历史性访问,” 6 Mei 2024, http://politics.people.com.cn/n1/2024/0506/c1001-40230006.html (diakses pada 23 Mei 2024)
- Ibid.
- Xinhua, “Xinhua Commentary: Chinese premier travels to Europe to boost ties, globalization in 2024’s first overseas trip,” 14 Januari 2024, https://english.news.cn/20240114/e3a20e30c58d4e3198ea7b5823196375/c.html (diakses pada 23 Mei 2024)
- Ibid.
- Selengkapnya, baca Ignatius Edhi Kharitas, “Dinamika Baru Hubungan Jerman–China: Lawatan Kanselir Scholz di Tengah Wacana ‘Decoupling’,” Forum Sinologi Indonesia, 30 Januari 2023, https://forumsinologi.id/dinamika-baru-hubungan-jerman-china/ (diakses pada 23 Mei 2024)
- Selengkapnya, baca Ignatius Edhi Kharitas, “Akhir Keterlibatan Italia dalam Belt and Road Initiative (BRI): Pelajaran Berharga bagi Negara Lain,” Forum Sinologi Indonesia, 6 Januari 2024, https://forumsinologi.id/akhir-keterlibatan-italia-dalam-bri/ (diakses pada 23 Mei 2024)
- European Union External Action, “EU-China Relations factsheet,” 7 Desember 2023, https://www.eeas.europa.eu/eeas/eu-china-relations-factsheet_en (diakses pada 23 Mei 2024)
- Seperti disampaikan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pidato di Mercator Institute for China Studies dan the European Policy Centre, European Commision, “Speech by President von der Leyen on EU-China relations to the Mercator Institute for China Studies and the European Policy Centre,” 30 Maret 2023, https://ec.europa.eu/commission/presscorner/detail/en/speech_23_2063 (diakses pada 23 Mei 2024)
- Reuters, “EU probes into Chinese subsidies and imports,” 17 Mei 2024, https://www.reuters.com/business/eu-probes-chinese-subsidies-imports-2024-04-19 (diakses pada 23 Mei 2024)
- 人民网, “李强出席世界经济论坛2024年年会并发表特别致辞,” 17 Januari 2024, http://politics.people.com.cn/n1/2024/0117/c1024-40160359.html (diakses pada 23 Mei 2024)
- The Economist, “What does “de-risking” trade with China mean?” 31 Mei 2023, https://www.economist.com/the-economist-explains/2023/05/31/what-does-de-risking-trade-with-china-mean (diakses pada 23 Mei 2024)
- Mengenai strategi ini, selengkapnya baca Andreea Brinza, et.al., “EU-China relations: De-risking or de-coupling – the future of the EU strategy towards China,” European Parliament: Directorate-General for External Policies: Policy Department, Maret 2024.
- 中华人民共和国外交部, “王毅在出席”
- Justin Spike dan Jovana Gec, “Hungary and Serbia’s autocratic leaders to roll out red carpet for China’s Xi during Europe tour,” Associated Press, 6 Mei 2024, https://apnews.com/article/hungary-serbia-red-carpet-xi-jinping-c06aa7990dc9bb7249f348ed41386faa?utm_source=copy&utm_medium=share (diakses pada 23 Mei 2024)
- Spike dan Gec, “Hungary and Serbia’s autocratic leaders”
- Spike, “Xi’s visit to Hungary and Serbia”
Ignatius Edhi Kharitas, adalah peneliti Forum Sinologi Indonesia (FSI)

Leave a Reply