Pada 4–8 Juni 2024, Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif mengadakan kunjungan resmi pertamanya ke China. Dalam lawatan atas undangan dari PM China Li Qiang itu, PM Sharif melakukan pembicaraan resmi dengan Presiden Xi Jinping dan PM Li Qiang di Beijing, serta menghadiri pertemuan bisnis di Beijing, Xian, dan Shenzhen. Lawatan tersebut tentu saja disambut dengan positif oleh pemimpin China. Presiden Xi bahkan menekankan bahwa: “China dan Pakistan adalah tetangga yang terhubung dengan gunung dan sungai, sahabat yang saling percaya dan setia, mitra yang saling membantu, dan saudara yang saling berbagi dalam suka dan duka.”1 Sang pemimpin tertinggi juga menegaskan upaya untuk mempererat “kerja sama kemitraan strategis segala musim” (quántiānhòu zhànlüè hézuò huǒbàn 全天候战略合作伙伴) antara kedua negara.2
Namun demikian, kunjungan dan sambutan di atas tidak serta merta mengindikasikan bahwa hubungan antara kedua negara berlangsung mulus. Media milik pemerintah China sendiri bahkan mengakui bahwa meskipun kunjungan di atas dapat mendorong pengembangan dan peningkatan Koridor Ekonomi China–Pakistan (CPEC), serta memperluas kerja sama di sektor-sektor yang sedang berkembang, seperti teknologi baru, isu keamanan masih menjadi tantangan dalam hubungan kedua negara, khususnya dalam pengembangan CPEC.3 Artikel singkat ini berupaya membahas dilema yang sedang dihadapi China dalam hubungannya dengan Pakistan, khususnya terkait pelaksanaan CPEC yang tahun ini sudah memasuki usia satu dasawarsa. Tantangan apa saja yang dihadapi oleh China dalam mewujudkan program tersebut? Bagaimana China berusaha merespons tantangan tersebut?
Salah satu pejabat tinggi Pakistan yang ikut serta dalam pembicaraan resmi dengan Presiden Xi Jinping dan PM Li Qiang adalah Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Asim Munir. Menurut keterangan Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar dalam jumpa pers (10 Juni 2024), “fakta bahwa panglima tinggi militer mendampingi perdana menteri menunjukkan bahwa Pakistan menangani masalah keamanan dengan serius, dan pihak Pakistan akan mengupayakan apa pun dalam menjawab kekhawatiran keamanan China.”4 Persoalan stabilitas dan keamanan memang menjadi perhatian utama China dalam pelaksanaan proyek CPEC ini. Pasalnya, pada 26 Maret 2024, lima insinyur China, yang bekerja pada proyek CPEC Bendungan Dasu di barat laut Pakistan, tewas akibat serangan teroris. Investigasi awal oleh otoritas Pakistan menemukan bahwa organisasi terlarang Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) terlibat dalam serangan tersebut.5 Ini bukan aksi terorisme pertama TTP di proyek bendungan tersebut. Kelompok ekstremis itu juga berada di balik serangan bunuh diri serupa pada tahun 2021, yang menewaskan 13 orang, termasuk sembilan insinyur China di proyek bendungan yang sama.6 Selain TTP, kelompok separatis terlarang, yaitu Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) dan Front Pembebasan Balochistan (BLF), telah beberapa kali melakukan serangan terhadap pasukan keamanan Pakistan serta warga negara dan kepentingan China di provinsi Balochistan, bagian barat daya Pakistan. Provinsi ini menduduki posisi strategis karena dilewati oleh jalan tol, jalur kereta api, dan pipa energi yang menghubungkan Kashgar, Daerah Otonomi Khusus Xinjiang, China, dengan Pelabuhan Gwadar yang dikelola perusahaan China di pantai barat laut Pakistan, sebagai bagian dari proyek CPEC. Sejak 2018, kelompok separatis BLA setidaknya telah melancarkan lima kali serangan terhadap kepentingan China. Salah satu serangan paling fatal adalah bom bunuh diri di Confucius Institute, Karachi, yang menewaskan tiga guru bahasa Mandarin dari China, pada Maret 2022.
Dilema keamanan dalam pelaksanaan CPEC, dengan banyaknya gangguan keamanan terhadap proyek tersebut yang sudah dijelaskan di atas, memang sudah menjadi perhatian publik China. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media internasional, Naghmana Hashmi, mantan duta besar Pakistan untuk China, menyatakan bahwa rakyat dan jurnalis China mempertanyakan mengapa banyak warga mereka justru tewas di Pakistan yang dianggap sebagai negara sahabat.7 Bahkan, muncul juga seruan dari warganet China agar Beijing lebih berani mengambil tindakan langsung terhadap kelompok-kelompok militan di Pakistan.8 Oleh karena itu, penegasan harapan China terkait masalah keamanan yang masih dihadapi warga negaranya kepada Islamabad dalam kunjungan PM Sharif kali ini dapat dianggap sebagai bentuk upaya Beijing untuk menghindari reaksi negatif dari rakyatnya sendiri.9 Harapan itu ditanggapi dengan positif oleh Pakistan. Dalam kunjungan tersebut di atas, PM Sharif berjanji untuk memastikan keselamatan personel China di Pakistan.10 Keseriusan Pakistan untuk memenuhi janji itu diperkuat dengan kehadiran pimpinan angkatan bersenjata Pakistan yang turut serta dalam delegasi lawatan ke China tersebut, seperti sudah diuraikan sebelumnya.
Selain masalah keamanan, keberlanjutan proyek CPEC juga dibayang-bayangi persoalan finansial. Sebelum kunjungan resmi PM Sharif ke China, pemerintah Pakistan mengusahakan negosiasi perpanjangan masa jatuh tempo utang sebesar 15,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dengan China.11 Utang tersebut berasal dari biaya pembangunan sejumlah pembangkit listrik melalui program CPEC. Situasi tersebut sebetulnya sudah diprediksi oleh sejumlah pengamat. Ammar Habib Khan, peneliti senior lembaga think tank Atlantic Council, pada Agustus 2023, memaparkan bahwa beban keuangan itu menjadi salah satu alasan mengapa Pakistan berjuang untuk menstimulasi perekonomiannya melalui CPEC.12 Banyak dari infrastruktur tersebut memerlukan biaya yang sangat tinggi. Ditambah lagi, sebagian besar pinjaman tersebut berbentuk dolar Amerika serta memiliki syarat dan ketentuan yang relatif lebih tinggi dari pasar. Oleh karena itu, Pakistan terus mengalami krisis transaksi berjalan dan masalah utang yang serius. Lebih lanjut Khan menambahkan, masalah utama bukanlah utang dari China, melainkan persoalan salah kelola sumber daya Pakistan. Dalam hal pembangunan pembangkit listrik melalui CPEC, Pakistan menambah kapasitas pembangkit tetapi saluran distribusinya masih belum efisien. Akibatnya, berapa pun tenaga listrik yang dihasilkan, banyak yang malah terbuang. Listrik yang terbuang itu menyebabkan kerugian jutaan dolar AS setiap tahunnya, dan utang pemerintah Pakistan kepada perusahaan pembangkit listrik yang dibangun di bawah CPEC semakin menumpuk.13 Keresahan serupa juga disuarakan oleh Sinosure, perusahaan asuransi milik negara China yang mendapat mandat sebagai penyedia asuransi bagi proyek-proyek besar CPEC. Perusahaan tersebut mengungkapkan kekhawatiran akan kewajiban yang belum dibayar oleh Pakistan kepada perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di dalam proyek CPEC.14
Terlepas dari dilema ekonomi dan keamanan, seperti yang telah diuraikan di atas, China bersedia terus melanjutkan CPEC dengan meluncurkan fase kedua. Dalam pertemuan antara Presiden Xi dan PM Sharif tersebut di atas, China mengumumkan kesediaannya untuk menciptakan versi yang lebih baik dari CPEC, dengan mengembangkan koridor pertumbuhan, koridor peningkatan taraf hidup, koridor inovasi, dan koridor hijau dengan Pakistan, guna mendorong pembangunan CPEC yang berkualitas, serta membantu pertumbuhan ekonomi dan sosial Pakistan.15 Kepercayaan China terhadap keberlanjutan CPEC itu, oleh para pengamat, tidak semata-mata dianggap sebagai dukungan seratus persen China kepada program tersebut. Dalam sebuah wawancara, Khurram Husain, wartawan bisnis dan ekonomi senior asal Pakistan, menyebut: “CPEC tahap ke-2 bukanlah sesuatu yang perlu ditanggapi serius. Sangat tidak mungkin akan ada banyak substansi di dalamnya. Peluncuran tersebut lebih banyak digembar-gemborkan oleh pemerintah Pakistan daripada pihak China.”16 Terlebih lagi, walaupun dalam kunjungan di atas PM Sharif telah menandatangani belasan nota kesepahaman, belum ada pengumuman mengenai investasi baru China atau perpanjangan penundaan pembayaran utang seperti yang diharapkan Pakistan.17 Masalah keamanan juga masih menjadi ganjalan yang belum terpecahkan. Beijing dapat mempertimbangkan untuk bergabung dengan Islamabad dalam perangnya melawan kelompok ekstrimis dan separatis untuk melindungi kepentingan strategisnya di negara Asia Selatan tersebut. Akan tetapi, serangan langsung China terhadap kelompok teroris di Pakistan dapat dilihat sebagai pelanggaran kedaulatan.18 Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan Presiden Xi dan PM Sharif tersebut di atas, menarik untuk dicatat bahwa kata-kata, seperti kepercayaan, kerja sama, dan koordinasi, sering digunakan dalam hubungan antara angkatan bersenjata China dan Pakistan.19 Hal itu mungkin akan diwujudkan dalam peningkatan kerja sama latihan militer kedua negara. Namun, apakah respons China tersebut mampu memperlancar jalannya CPEC tahap kedua yang digadang-gadang sebagai proyek percontohan keberhasilan BRI? Waktu yang akan menjawabnya.
Referensi:
- 新华网, “习近平会见巴基斯坦总理夏巴兹,” 7 Juni 2024, http://www.news.cn/politics/leaders/20240607/23fd34e0209e49b99b6918aff5b790fb/c.html (diakses pada 16 Juni 2024)
- Ibid.
- Zhao Yusha dan Chi Jingyi, “Pakistan PM starts China visit to enhance ties, expand CPEC cooperation,” Global Times, 4 Juni 2024, https://www.globaltimes.cn/page/202406/1313611.shtml (diakses pada 16 Juni 2024)
- Sarah Zaman, “Key takeaways from Pakistani PM’s visit to China,” VOA, 10 Juni 2024, https://www.voanews.com/a/key-takeaways-of-pakistani-pm-visit-to-china/7650244.html (diakses pada 16 Juni 2024)
- Syed Fazl-e-Haider, “Should we stay or should we go? China’s dilemma in Pakistan,” The Japan Times, 17 Mei 2024, https://www.japantimes.co.jp/commentary/2024/05/17/world/china-cpec-pakistan-terrorism/ (diakses pada 16 Juni 2024)
- Ibid.
- Zaman, “Key takeaways”
- Fazl-e-Haider, “Should we stay”
- Zhao Ziwen, “Xi Jinping asks Pakistan to guarantee ‘safety of Chinese personnel and projects,’” SCMP, 7 Juni 2024, https://www.scmp.com/news/china/diplomacy/article/3265853/xi-jinping-asks-pakistan-guarantee-safety-chinese-personnel-and-projects-he-pledges-more-economic (diakses pada 16 Juni 2024)
- Ayesa Sikandar, “Ensuring Security for Progress: Pakistan’s Commitment to Chinese Safety,” The Diplomat, 9 Juli 2024, https://thediplomat.com/2024/07/ensuring-security-for-progress-pakistans-commitment-to-chinese-safety/ (diakses pada 31 Juli 2024)
- Adnan Aamir, “Pakistan scrambles for relief on $15bn energy debt owed to China,” Nikkei Asia, 24 Mei 2024, https://asia.nikkei.com/Politics/International-relations/Pakistan-scrambles-for-relief-on-15bn-energy-debt-owed-to-China (diakses pada 16 Juni 2024)
- Sarah Zaman, “Is China Responsible for Pakistan’s Debt Problem?” VOA, 4 Agustus 2023, https://www.voanews.com/a/is-china-responsible-for-pakistan-s-debt-problem-/7211897.html (diakses pada 16 Juni 2024)
- Ibid.
- Eram Ashraf, “Is China Souring on Pakistan?” The Diplomat, 13 Juni 2024, https://thediplomat.com/2024/06/is-china-souring-on-pakistan/ (diakses pada 16 Juni 2024)
- CGTN, “Xi Jinping hails China-Pakistan ties in talks with Shehbaz Sharif,” 7 Juni 2024, https://news.cgtn.com/news/2024-06-07/President-Xi-meets-Pakistani-PM-1ueZc4bPnTW/p.html (diakses pada 16 Juni 2024)
- Sudha Ramachandran, “Khurram Husain on China’s Declining Interest in CPEC,” The Diplomat, 17 Juni 2024, https://thediplomat.com/2024/06/khurram-husain-on-chinas-declining-interest-in-cpec/ (diakses pada 31 Juli 2024)
- Umair Jamal, “Pakistan–China Agree to Update CPEC,” The Diplomat, 10 Juni 2024, https://thediplomat.com/2024/06/pakistan-china-agree-to-upgrade-cpec/ (diakses pada 17 Juni 2024)
- Fazl-e-Haider, “Should we stay”
- Ashraf, “Is China”
Ignatius Edhi Kharitas adalah peneliti di Forum Sinologi Indonesia

Leave a Reply