Geliat Pariwisata China di Tengah Tantangan Domestik dan Internasional

Dalam rangka memperingati Hari Buruh 1 Mei 2024 lalu, pemerintah China mengumumkan libur nasional selama 5 hari. Tak pelak, warga China menyambut meriah keputusan tersebut dan memanfaatkan libur panjang itu untuk berwisata. Data yang dirilis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China menunjukkan 295 juta perjalanan wisata domestik berlangsung selama periode liburan Hari Buruh.1 Angka ini lebih tinggi 28% dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, yang tercatat pada tahun 2019.2 Di samping itu, data yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan China juga menunjukkan tren positif: 92 juta perjalanan kereta api, hampir 10 juta perjalanan udara, dan 1,25 miliar perjalanan di jalan tol.3 Tak pelak, sejumlah pengamat menilai perkembangan terakhir di sektor pariwisata domestik dapat menjadi berita baik bagi perekonomian China yang sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Akan tetapi, tidak semua pengamat optimistis terhadap pertumbuhan sektor pariwisata domestik China, dengan mempertimbangkan sejumlah indikator lain. Pertama, jumlah pengeluaran rata-rata para wisatawan tidak berbanding lurus dengan lonjakan terjadi pada jumlah perjalanan, sebuah fenomena yang oleh para analis dikaitkan dengan perubahan pola konsumsi di kalangan kelas menengah.4 Kedua, jumlah kedatangan wisatawan internasional masih mengalami tren perlambatan, dengan jumlah orang asing yang mengunjungi China saat ini hanya sebesar 30% dari jumlah kedatangan pada tahun 2019.5 Dengan latar belakang tersebut, artikel ini akan mengulas bagaimana perkembangan terkini sektor pariwisata domestik China dapat digunakan untuk mengamati aspek sosio-ekonomi masyarakat negara itu, serta tantangan, baik internal maupun eksternal, yang sedang dihadapi sektor tersebut.

Dalam pidato di hadapan sidang parlemen tahunan 5 Maret 2024 lalu, Perdana Menteri China Li Qiang memaparkan target pembangunan tahun 2024 melalui sejumlah indikator, seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 5%, penciptaan lebih dari 12 juta lapangan kerja baru di perkotaan, dan penurunan angka pengangguran di perkotaan pada posisi kurang lebih 5,5%.6 Bagi sebagian analis, target tersebut kurang realistis, mengingat sektor andalan perekonomian China, seperti properti, masih tertekan. Di samping itu, utang pemerintah daerah terus meningkat dan angka pengangguran kaum muda yang masih tinggi, bahkan membuat para lulusan perguruan tinggi menjadi tidak yakin akan masa depan mereka.7 Sebagai gambaran, penjualan properti baru pada kuartal I 2024 tercatat turun 28,3%, sedangkan harga rumah baru turun selama 10 bulan berturut-turut, bahkan di bulan April 2024 turun sebesar 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus merupakan penurunan tercepat sejak November 2014.8 Sementara itu, lembaga riset Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi pengangguran kaum muda di China kemungkinan akan tetap tinggi tahun ini karena ketidaksesuaian yang masih terus terjadi.9 Ketidaksesuaian yang dimaksud adalah banyaknya lulusan baru jauh melebihi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia karena sebagian besar masih terfokus pada sektor berketerampilan rendah.10

Dalam situasi yang masih suram tersebut, sektor pariwisata digadang-gadang mampu menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi China tahun ini. Salah satu pengamat yang optimis adalah Presiden World Travel and Tourism Council Julia Simpsons. Ia menyebut, “turis China mulai melakukan perjalanan wisata lagi dan jumlah ini akan terus bertambah. Sektor pariwisata telah menunjukkan tanda-tanda ketahanan dan pemulihan yang kuat.”11 Hal ini ia ungkapkan berdasarkan laporan yang disusun lembaganya bersama Oxford Economics awal Juni 2024. Berdasarkan laporan tersebut, wisatawan domestik China diperkirakan akan menyumbang  6,79 triliun yuan (938 miliar dolar Amerika Serikat) ke perekonomian China pada tahun ini, melampaui tingkat pra-pandemi Covid-19 untuk pertama kalinya.12 Jumlah tersebut diperkirakan naik 11% dibandingkan tahun 2019.13 Optimisme serupa juga disampaikan perusahaan jasa finansial global Morgan Stanley. Menurut laporan mereka pada Juni 2024, sektor pariwisata dan perjalanan China telah menyediakan sekitar 80 juta pekerjaan tahun ini, atau sudah berada pada posisi sekitar 2% di bawah tahun 2019.14 Senada dengan itu, Peng Han, konsultan industri pariwisata pada perusahaan Travel Daily, melihat target kinerja jaringan grup hotel internasional di China tahun 2024 relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat optimistis dengan potensi pertumbuhan pasar pariwisata dan perjalanan China.15

Pertanyaan yang paling mendasar adalah mengapa perjalanan wisata domestik China melonjak tajam? Tensi geopolitik global dan penurunan nilai mata uang yuan turut berkontribusi pada tren tersebut. Hal ini meningkatkan hambatan bagi turis China yang ingin bepergian ke luar negeri. Misalnya, semakin lamanya pemrosesan visa ke negara-negara seperti Amerika Serikat, dan biaya penerbangan internasional yang menjadi lebih mahal, membuat wisatawan China lebih memilih melancong di dalam negeri.16 Sementara itu, menurut survei yang dirilis firma konsultan Oliver Wyman pada September 2023, ketidakpastian mengenai prospek perekonomian China menyebabkan warganya menunda perjalanan ke luar negeri, dengan hampir 40 persen dari mereka berniat menunggu dua tahun ke depan sebelum berwisata ke luar negeri lagi.17 Tren peningkatan pariwisata domestik ini diamini oleh  Schubert Lou, chief operating officer (COO) agen perjalanan online Trip.com, mengatakan: “permintaan perjalanan domestik yang sangat kuat terlihat dari peningkatan volume pencarian hotel sebesar 67% dan penerbangan sebanyak 80% dibandingkan tahun lalu.”18 Akan tetapi, data tersebut perlu dilihat dengan lebih hati-hati. Peng Han dari Travel Daily mengingatkan, meskipun volume wisatawan lokal mungkin meningkat, konsumsi per kapita para pelancong tersebut masih tetap rendah.19 Menurutnya, secara umum, ketidakpastian mengenai perekonomian China membuat para turis domestik lebih menekankan pada penghematan sehingga masyarakat mencari opsi wisata yang paling ekonomis. Mereka memang pergi berlibur dan membelanjakan uangnya. Namun, mereka melakukannya dengan jauh lebih cermat. Peringatan serupa juga disampaikan oleh firma riset pasar Mintel. Survei yang mereka lakukan pada September 2023 menunjukkan bahwa pariwisata domestik kembali menjadi prioritas utama bagi konsumen China. Namun, peningkatan belanja dalam skala besar masih kecil kemungkinan terjadi karena tabungan lebih menjadi prioritas mengingat berbagai ketidakpastian yang dihadapi konsumen.20 Fenomena tersebut didukung oleh data rata-rata pengeluaran turis domestik selama masa liburan Hari Buruh tahun 2023 lalu, yang berada pada angka 540 yuan, turun dari 603 yuan pada 2019.21

Pilihan berwisata dengan hemat tersebut memang beberapa tahun belakangan ini sangat populer, khususnya di kalangan generasi muda urban China. Di jagat maya, banyak bermunculan tanda pagar (hashtag) yang mempromosikan tren berwisata dengan biaya semurah mungkin. Tanda pagar (tagar) tèzhǒngbīng shì lǚyóu (特种兵式旅游) atau “wisata ala korps pasukan khusus” mulai marak di media sosial China sejak libur Qingming (Ceng Beng) dan Hari Buruh bulan April hingga awal Mei 2023.22 Idenya sederhana: bepergian ke sebanyak mungkin lokasi wisata dalam waktu sesingkat mungkin, dengan mengeluarkan uang sesedikit mungkin.23 Para pendukung tagar itu umumnya adalah mahasiswa dan profesional muda yang dengan bangga memamerkan kiat-kiat berlibur dengan murah, meski harus mengorbankan kenyamanan pribadi. Misalnya, mereka menghindari pusat perbelanjaan mahal dan tidur di kafe internet atau di dalam kendaraan, atau lebih memilih jalan-jalan gratis di kota daripada tur berbayar.24 Awal tahun 2024 ini, muncul tagar Chéngdū díshìní (成都迪士尼) atau Disneyland Chengdu. Ini bukan tagar untuk mempromosikan taman hiburan baru di kota Chengdu, melainkan tren yang terinspirasi dari video penyanyi rap China. Berkat video yang direkam di sebuah taman bermain umum di area permukiman di Chengdu itu, kaum muda berbondong-bondong menirunya. Bahkan, tak sedikit anak muda yang khusus datang dari luar kota ke tempat itu untuk berpose dan mengunggahnya di media sosial mereka.25 Selanjutnya, baru-baru ini marak tagar xiǎo zhèn wénxué (小镇文学) atau “sastra kabupaten”, yang dipopulerkan oleh kaum muda urban China. Didorong oleh meningkatnya minat untuk bepergian ke kota-kota kecil dan kabupaten di China dalam beberapa bulan terakhir, para wisatawan berdandan dan berpakaian ala 1980 dan 1990-an, berpose di tempat-tempat tersebut, lalu mengunggahnya di media sosial mereka dengan caption yang meromantisasi kehidupan kota kecil.26 Sampai dengan akhir Mei 2024, video-video dengan tagar tersebut di Douyin (TikTok versi China) sudah dilihat oleh lebih dari 470 juta orang.27 Meskipun tagar “sastra kabupaten” mendapatkan popularitas sebagai ekspresi nostalgia, tren itu juga mendapat kritik karena melebih-lebihkan stagnasi kehidupan dan inferioritas kota kecil, serta malah menunjukkan ekspresi arogansi kaum muda perkotaan.28

Permasalahan kurangnya konsumsi pada sektor pariwisata di tengah meningkatnya perjalanan wisata domestik sebetulnya dapat diatasi dengan peningkatan kehadiran turis mancanegara. Namun sayangnya, kedatangan wisatawan internasional terus menurun, dengan jumlah orang asing yang memasuki China saat ini hanya sekitar 30% dari jumlah tahun 2019.29 Pada tahun 2019, hampir 98 juta pengunjung internasional datang ke negara tersebut, sedangkan tahun lalu hanya 35 juta, termasuk perjalanan bisnis, pelajar, dan sejenisnya.30 Usaha untuk menarik turis asing sudah dilakukan China dengan memperluas kebijakan bebas visa. Sebagaimana diberitakan media pemerintah, sejak awal 2024, China sudah memberlakukan kebijakan bebas visa kunjungan bagi warga negara Malaysia, Singapura, dan Thailand.31 Pada Maret 2024, China memperluas kebijakan bebas visa kunjungan dan transit selama 15 hari untuk 6 negara Eropa: Austria, Belgia, Hungaria, Irlandia, Luksemburg, dan Swiss.32 Sebelumnya, China sudah memberlakukan kebijakan yang sama untuk Belanda, Italia, Jerman, Perancis, dan Spanyol.33 Akan tetapi, setidaknya masih terdapat sejumlah tantangan yang membuat turis asing enggan berkunjung ke China.

Pertama, lanskap geopolitik global yang berubah. Huang Songshan, kepala Pusat Penelitian Pariwisata di Fakultas Bisnis dan Hukum, Edith Cowan University, Australia, mengutip survei yang dilakukan Pew Research Center pada 2023, menyatakan: “kebanyakan orang di negara-negara Barat mempunyai pandangan negatif terhadap China. Pemerintah China yang memperketat peraturan sosial berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan asing di China.”34 Sentimen negatif tersebut diperkuat dengan kebijakan sejumlah negara Barat yang mengeluarkan saran perjalanan (travel advisory) bagi warganya yang ingin mengunjungi China, dengan mengingatkan risiko, seperti penegakan hukum yang sewenang-wenang, larangan keluar, dan salah tangkap.35

Kedua, sensor ruang siber dan penggunaan pembayaran digital. Turis asing yang berkunjung ke China harus bersiap dengan kenyataan bahwa sebagian besar situs dan aplikasi yang biasa mereka gunakan, tidak dapat berfungsi di China. Di samping itu, karena masalah seputar penerimaan kartu bank asing dan prosedur otentikasi identitas, banyak pengunjung asing menghadapi kesulitan saat menggunakan layanan pembayaran digital China, yang merupakan metode pembayaran paling umum di sana saat ini.36 Oleh karena itu, pemerintah China telah mengambil berbagai langkah bersama dengan Bank Sentral dan otoritas pengawas keuangan untuk mengatasi masalah ini.37

Sebagai pertanyaan penutup, bagaimana pemerintah China dapat mengatasi masalah konsumsi di sektor pariwisata yang masih belum sebanyak jumlah kunjungan wisata? Seperti industri jasa pada umumnya, industri pariwisata sangat tergantung pada kepercayaan konsumen. Seperti sudah diuraikan di atas, kepercayaan konsumen China terhadap prospek perekonomian negaranya di masa depan masih belum sepenuhnya pulih. Jika ingin mendongkrak konsumsi di segmen turis domestik, pemerintah China perlu melakukan langkah-langkah yang lebih konkret untuk membuktikan bahwa pemulihan ekonomi China pasca-pandemi sudah berada di jalur yang benar. Sedangkan untuk segmen wisatawan mancanegara, pemerintah China perlu menunjukkan bahwa pengetatan berbagai regulasi sosial yang selama ini digencarkan tidak akan menyasar orang asing, sehingga dapat mematahkan sentimen negatif orang asing terhadap negara itu. Akankah China berhasil mengatasi tantangan di atas? Hal ini masih perlu dibuktikan dengan melihat volume pengeluaran turis, baik domestik maupun asing, selama masa libur panjang selanjutnya, yaitu liburan musim panas dan Natal (pertengahan dan akhir tahun) untuk turis asing, serta libur Zhong Qiu (pertengahan musim gugur) dan Hari Nasional (awal Oktober) untuk turis domestik.

Referensi:


  1. Stephen McDonell, “Domestic tourism soars in China but foreigners stay away,” BBC, 10 Mei 2024, https://www.bbc.com/news/world-asia-china-68982645 (diakses pada 1 Juni 2014)
  2. Ibid.
  3. Ibid.
  4. Mia Nulimaimaiti, “China sees Labour Day tourism surge, paving way for sector’s full-spectrum recovery,” SCMP, 6 Mei 2024, https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3261615/china-sees-labour-day-tourism-surge-paving-way-sectors-full-spectrum-recovery (diakses pada 1 Juni 2014)
  5. McDonell, “Domestic tourism soars”
  6. 人民网, “政府工作报告:2024年GDP增长预期目标为5%左右,” 5 Maret 2024, http://lianghui.people.com.cn/2024/n1/2024/0305/c458654-40189236.html (diakses pada 1 Juni 2014)
  7. McDonell, “Domestic tourism soars”
  8. McDonell, “Domestic tourism soars”
  9. Laura He, “China unveils ‘historic’ rescue for crisis-hit property sector as home prices slump again,” CNN, 17 Mei 2024, https://edition.cnn.com/2024/05/17/economy/china-rescue-measures-housing-market-intl-hnk/index.html (diakses pada 1 Juni 2014)
  10. Clement Tan, “China youth unemployment will stay elevated in 2024, but EIU warns economic impact will linger,” CNBC, 25 Januari 2024, https://www.cnbc.com/2024/01/25/china-youth-unemployment-will-stay-elevated-in-2024-but-eiu-warns-economic-impact-will-linger.html (diakses pada 1 Juni 2014)
  11. K. Oanh Ha, “China’s tourists to spend nearly $1trillion on holidays at home,” The Japan Times, 3 Juni 2024, https://www.japantimes.co.jp/business/2024/06/03/china-tourists-trillion-holidays/ (diakses pada 10 Juni 2024)
  12. Ibid.
  13. Ibid.
  14. Ibid.
  15. McDonell, “Domestic tourism soars”
  16. Ha, “China’s tourists to spend”
  17. Theodora Yu dan Christian Shepherd, “Young people in China call themselves ‘special forces’ of budget travel,” The Washington Post, 29 Septermber 2023, https://www.washingtonpost.com/world/2023/09/29/china-holiday-golden-week-travel/ (diakses pada 1 Juni 2023)
  18. McDonell, “Domestic tourism soars”
  19. Ibid.
  20. Yu dan Shepherd, “Young people in China”
  21. Julia Malleck, “The “special forces” travel fad among young people in China could be bad news for Beijing,” Quartz, 18 Mei 2024, https://qz.com/china-special-forces-tourism-anti-spending-trend-1850450382 (diakses pada 1 Juni 2023)
  22. Ibid.
  23. Ibid.
  24. Yu dan Shepherd, “Young people in China”
  25. Zhang Long, “Community fitness center’s viral ascent to fame as ‘Chengdu Disney’,” Shanghai Daily,* 8 April 2024, https://www.shine.cn/news/nation/2404082257/ (diakses pada 1 Juni 2024)
  26. Ding Xiaoyan dan Li Xin, “China’s ‘Small-Town Literature’ Trend Turns Rural Into Retro,” Sixth Tone, 28 Mei 2024, https://www.sixthtone.com/news/1015230 (diakses pada 1 Juni 2024)
  27. Ibid.
  28. Ibid.
  29. McDonell, “Domestic tourism soars”
  30. Ibid.
  31. Yu Hong, “Visa exemptions will strengthen exchanges between China and ASEAN,” CGTN, 29 Januari 2024, https://news.cgtn.com/news/2024-01-29/Visa-exemptions-will-strengthen-exchanges-between-China-and-ASEAN-1qLePf0Xkru/p.html (diakses pada 1 Juni 2024)
  32. Wang Cong dan Tu Lei, “China’s visa-free policy takes effect for 6 European countries, showing ‘confidence, openness’,’’Global Times, 14 Maret 2024, https://www.globaltimes.cn/page/202403/1308851.shtml (diakses pada 1 Juni 2024)
  33. Angela Symons, “China extends visa-free entry for 11 European countries until the end of 2025,” Euronews, 8 Mei 2024, https://www.euronews.com/travel/2024/05/08/china-aims-to-boost-tourism-by-giving-visa-free-entry-to-these-five-european-countries (diakses pada 1 Juni 2024)
  34. McDonell, “Domestic tourism soars”
  35. Jasmine Tse dan Ralph Jennings, hosts, “Tourism trouble: post-pandemic hurdles of China travel,” Inside China (podcast), 9 April 2024, https://www.scmp.com/podcasts/inside-china/3258304/tourism-trouble-post-pandemic-hurdles-china-travel (diakses pada 1 Juni 2024)
  36. Ibid.
  37. Cong dan Tu, “China’s visa-free policy”


Ignatius Edhi Kharitas, adalah peneliti Forum Sinologi Indonesia (FSI).


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *