ASEAN Harus Bersatu untuk Selesaikan CoC LCS

Menghadapi fase akhir penyelesaian Kode Etik Perilaku (Code of Conduct, COC) di Laut Cina Selatan, negara-negara ASEAN dihimbau untuk merapatkan barisan dan memperkuat persatuan. Sebagai sebuah negara terbesar dan terluas di kawasan, Indonesia diharapkan mampu berperan sebagai penggerak utama dalam menjaga persatuan itu. Harapan dan imbauan di atas mengemuka dalam sebuah seminar bertajuk “Keketuaan Filipina dan Diplomasi China di ASEAN,” yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia di Jakarta, 27 April 2026 yang lalu. 

Diskusi yang dipandu oleh dosen President University dan Sekretaris FSI, Muhammad Farid, S.S., M.PA., menghadirkan pembicara: (1) Ahmad Shaleh Bawazir, Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia; (2) Dr. Klaus Heinrich Raditio, Dosen Politik Tiongkok, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara; dan (3) Dr. Ratih Kabinawa, Peneliti Mitra di University of Western Australia dan FSI.

Ahmad Shaleh Bawazir menjelaskan bahwa China dan ASEAN memiliki keterlibatan yang cukup dalam di berbagai sektor. Namun, di balik intensifnya hubungan China dan ASEAN di berbagai sektor, tingkat kepercayaan kedua pihak masih belum memadai. Ketidakpercayaan tersebut muncul karena ketegangan yang terjadi di Laut China Selatan (LCS). Ahmad juga menerangkan bahwa negosiasi masih terus berjalan dengan target penyelesaian di tahun 2026. Agar negosiasi tersebut berjalan dengan baik, penting untuk kedua pihak dapat mengelola ketegangan dengan menekannya sampai tingkat terendah. Ahmad optimistis bahwa insiden di LCS akan semakin berkurang bila CoC ini berhasil disepakati. 

Diskusi dilanjutkan dengan penjelasan dari Klaus Heinrich Raditio yang cukup pesimis dengan niat China menyelesaikan CoC di tahun 2026. Hal ini diakibatkan banyaknya tantangan yang perlu dihadapi selama proses negosiasi, seperti dinamika global dan bergabungnya China dalam kelompok G2 bersama dengan Amerika Serikat (AS). Klaus berpendapat bahwa CoC bisa saja terselesaikan di tengah seluruh perhatian AS mengarah pada krisis Timur Tengah, dengan syarat mutlaknya adalah persatuan ASEAN. Indonesia, sebagai ketua informal ASEAN, diharapkan dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga persatuan tersebut. Musababnya, Filipina masih memiliki isu domestik yang dapat menjadi tantangan dalam mengambil peran di ASEAN, meski Filipina memiliki posisi kuat di mata hukum karena aksinya menggugat China di Mahkamah Arbitrase Internasional. 

Berikutnya, Ratih Kabinawa berpendapat bahwa China memiliki strategi, yaitu negara ini cenderung meningkatkan kedekatan dengan negara yang sedang menjabat sebagai ketua ASEAN, baik melalui keamanan, ekonomi, dan diplomasi bilateral, dengan tujuan untuk mempengaruhi arah kebijakan organisasi tersebut. Di tahun ini, Ratih mengklaim bahwa China mungkin akan menggunakan proposal eksplorasi energi bersama sebagai strategi untuk membangun kedekatan dengan ketua ASEAN tahun ini—Filipina—yang sedang menghadapi krisis energi. Jika proposal ini terlaksana, akan ada kekhawatiran CoC gagal terselesaikan. Untuk mencegah kekhawatiran tersebut, Filipina diimbau untuk memperkuat kerekatan serta memberikan penekanan terhadap agenda ASEAN yang di tahun ini berfokus pada terselesaikannya CoC guna mengurangi potensi ketegangan di kawasan. 

Diskusi ditutup oleh Johanes Herlijanto, Ph.D., dosen tetap Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Pelita Harapan dan Ketua FSI. Johanes menjelaskan bagaimana dalam dua dekade terakhir China bersitegang dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina, terkait klaim wilayah Zona Ekonomi Eksklusif yang didasarkan pada konsep sembilan garis putus-putus (saat ini menjadi sepuluh garis putus-putus). Klaim ini kerap dipandang bertentangan dengan UNCLOS oleh negara-negara di kawasan. 

Acara ini juga dipublikasikan oleh sejumlah media, yakni:

  • https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8471386/perhatian-as-beralih-pengaruh-china-di-ekonomi-asean-bisa-menguat 
  • https://www.tribunnews.com/internasional/7823182/krisis-timur-tengah-disebut-buka-peluang-china-tingkatkan-pengaruh-di-asia-tenggara
  • https://www.viva.co.id/berita/dunia/1895217-filipina-di-pusaran-konflik-laut-china-selatan 
  • https://wartaekonomi.co.id/read609759/efek-perang-as-iran-dominasi-cina-di-asia-tenggara-dinilai-makin-besar?page=all 
  • https://nasional.sindonews.com/read/1701509/12/hadapi-dominasi-china-tanpa-pihak-luar-asean-diimbau-perkuat-persatuan-1777449884 
  • https://www.jpnn.com/news/efek-perang-iran-as-china-makin-bebas-mendominasi-kawasan-asia-tenggara 
  • https://www.suara.com/bisnis/2026/04/29/081204/krisis-timur-tengah-alihkan-fokus-as-dominasi-cina-di-laut-cina-selatan-kian-mengancam

Dokumentasi Seminar


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *