Tiongkok, Asia Tenggara, dan Indonesia : Refleksi 2025

Kata Pengantar

Republik Rakyat Tiongkok (berikutnya disebut sebagai RRT atau Tiongkok saja) adalah sebuah negara yang memiliki hubungan yang panjang dengan negara Republik Indonesia (RI). Hubungan antara kedua bangsa, atau lebih tepatnya antara dua peradaban ini, telah berlangsung selama lebih dari dua milenium, bahkan sebelum wilayah kepulauan Asia Tenggara yang dikenal sebagai Nusantara ini mengenal negara-bangsa. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa Eropa, perjumpaan antara masyarakat Nusantara dengan saudara-saudara mereka dari Tiongkok telah berlangsung lebih lama dan lebih intensif.

Namun, interaksi antara kedua peradaban ini tidak selalu berlangsung dalam suasana damai dan akrab. Sebagaimana sering kali terjadi dalam sebuah interaksi, hubungan antara orang-orang dari daratan Tiongkok dengan orang-orang di Nusantara, yang di belakang hari berkembang menjadi sebuah bangsa besar bernama Indonesia, selalu diwarnai dengan dinamika. Interaksi yang kompleks antara kedua kelompok masyarakat itu terus berlangsung hingga era kontemporer setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) memegang tampuk kekuasaan dan mendirikan RRT. Hubungan antara RRT dan RI, yang secara resmi terbentuk sejak 1950, mengalami pasang surut, bahkan hingga ke tahap pembekuan antara tahun 1967 dan 1990.

Intensitas hubungan antara Tiongkok dan Indonesia meningkat tajam sejak kedua negara menormalisasi hubungan diplomatik pada tahun 1990. Peningkatan bahkan semakin terasa sejak tahun-tahun awal abad ke-21 dan semakin signifikan sejak RRT mencanangkan proyek Jalur Sutra Laut Abad ke-21, yang di kemudian hari berkembang menjadi Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan (一带一路 Yidai Yilu), yang kemudian dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Belt and Road Initiative (BRI). Pada saat yang sama, hubungan RRT dengan negara-negara Asia Tenggara yang lain mengalami peningkatan yang sangat tajam pula.

Interaksi yang makin intensif dan kompleks antara RRT dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lain menjadi sebuah fenomena yang menarik dan penting untuk diamati, khususnya bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia. Dalam konteks di ataslah sekelompok kecil pemerhati dan akademisi yang menaruh perhatian pada berbagai perkembangan terkait RRT membentuk sebuah lembaga kajian mengenai RRT yang kami beri nama Forum Sinologi Indonesia (FSI). Melalui pembentukan FSI, kami berharap dapat sedikit berpartisipasi dalam melakukan pengamatan objektif, kritis, dan berbasis akademis terhadap perkembangan di dalam negeri RRT maupun hubungan negara itu dengan negara-negara lain, khususnya dengan Indonesia dan Asia Tenggara sebagai sebuah kawasan. Selain itu, kami juga berharap berpartisipasi dalam mengembangkan dan menyebarluaskan pemahaman yang objektif, kritis, dan berbasis akademis tersebut kepada masyarakat Indonesia, baik melalui seminar-seminar yang kami selenggarakan maupun melalui tulisan-tulisan yang kami unggah pada laman FSI.

Laporan pengamatan dan kegiatan tahun 2025 ini merupakan salah satu dari upaya penyebarluasan pemahaman di atas. Laporan ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan sebuah kumpulan tulisan akademik yang disusun oleh para akademisi dan peneliti yang berafiliasi dengan FSI. Bagian ini kami beri judul “RRT, Asia Tenggara, dan Indonesia: Refleksi Perkembangan 2025,” dan didesain untuk menyampaikan gambaran mengenai perkembangan yang terjadi di RRT sepanjang tahun yang baru saja kita lalui, termasuk perkembangan terkait hubungan RRT dengan Asia Tenggara, khususnya dengan Indonesia. Masing-masing dari tulisan di atas telah melalui proses pemeriksaan secara kritis oleh mitra bestari dan telah dibahas dalam sebuah seminar publik yang diselenggarakan pada 28 Desember 2025. Bagian kedua merupakan sebuah laporan kegiatan FSI sepanjang tahun 2025 yang ditulis oleh Tim Harian FSI. Melalui laporan kegiatan tersebut, kami berharap dapat menyampaikan secara ringkas kepada masyarakat mengenai berbagai kegiatan, khususnya seminar, yang telah kami selenggarakan dalam tahun yang telah lewat ini.

Adalah sebuah kebahagiaan bagi kami bila laporan pengamatan tahun 2025 yang kami sajikan dapat menjadi salah satu sumber yang memantik diskusi lebih dalam mengenai RRT dan hubungannya dengan Asia Tenggara dan Indonesia. Merupakan kebahagiaan pula bagi kami bila laporan kegiatan yang kami sajikan di akhir tulisan ini dapat membantu para sahabat FSI untuk lebih mengenal kami dan kegiatan-kegiatan kami. Baik laporan pengamatan maupun laporan kegiatan ini tidak mungkin hadir di tangan para sahabat tanpa dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami menghaturkan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ignatius Edhi Kharitas, Muhamad Iksan, Ratih Kabinawa, Ristian Atriandi Supriyanto, dan Stephanie Priscillia Nanda Kurniawan yang tanpa lelah telah mempersiapkan laporan ini. Ucapan terima kasih juga kami haturkan secara khusus kepada Tuty N. Mutia, Teuku Rezasyah, dan Victor Sasongko Harjono yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan kepakaran untuk memeriksa dan memberikan pandangan konstruktif terhadap berbagai tulisan yang saat ini hadir di tangan para sahabat. Profesor Tuty N. Mutia bahkan memberikan kontribusi khusus melalui artikel yang menjadi penutup dari kumpulan tulisan ini.

Akhir kata, izinkan kami menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya atas semua dukungan yang telah diberikan oleh sahabat sekalian kepada kami sepanjang tahun 2025 yang lalu. Kami memohon pula untuk dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya terhadap segala kekeliruan dan kesalahan yang kami perbuat. Semoga di tahun 2026 FSI dapat melaksanakan penelitian dan kegiatan dengan lebih baik lagi.


Unduh Versi PDF:







Jakarta, Februari 2026

Tim Editor,

Johanes Herlijanto,

Abdullah Dahana,

Muhammad Farid.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *